Importir Umum Mobil Mewah Tercekik Dolar dan Pajak

Importir Umum Mobil Mewah Tercekik Dolar dan Pajak

Jakarta, Motoris – Sejumlah Importir Umum (IU) mobil mewah mengaku kinerja penjualan mobil kelas premium sepanjang Januari-Juni tahun ini ambles dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Setikat dan tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dirasakan telah ‘mencekik’ penjualan mobil-mobil mewah.

“Nilai tukar rupiah yang melemah sudah pasti membuat kami gelagapan. Sekarang dengan nilai tukar Rp 14.570 per dolar, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kan impor kita pakai mata uang dolar. Apalagi, tarif PPnBM juga tinggi. Jadi ibaranya, sudah mati langkah,” papar salah seorang anggota Asosiasi Importir Kendaraan Bermotor Indonesia (AIKI), Toni, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Toni menyebut jika di tahun-tahun sebelumnya, penjualan  satu IU bisa mencapai 7-8 unit, tetapi di tahun ini diperkirakan tak lebih dari 3 unit. Sebab, lanjut dia, setajir apapun orang akan berpikir ulang jika harga mobil yang beripat-lipat dibanding harga aslinya.

“Soalnya pembeli mobil mewah terutama super car itu orang yang sagat paham harga. Paham pajak. Mereka tahu persis berapa harga aslinya. Jadi bukan soal kemampuan daya beli, tetapi lebih pada sikap rasional saja kalau mereka mengurungkan niat beli,” papar dia.

Ilustrasi mobil mewah, Jaguar XF model 2018 – dok.Yahoo

Sebelumnya, Presiden Direktur Prestige Image Motorcars – salah satu importir umum mobil mewah – Rudi Salim mengaku performa penjualan perusahaannya selama semester pertama tahun 2018 ini, tidak sebaik tahun lalu. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, kata Rudi, perusahaannya baru berhasil melego satu unit mobil.

Padahal, di kurun waktu yang sama tahun lalu, penjualan mencapai lima unit. “Kalau bicara penjualan kita sedih sekali, mengenaskan,” ungkapnya usai peluncuran Aston Martin Vanquish S Ultimate di Pluit, Jakarta Utara, beberapa wakru lalu.

Menurutnya, harga mobil super di Indonesia melambung tinggi setelah PPnBM, Pajak Impor, dan dolar naik. Bahkan kenaikan berlipat-lipat.

“Banyak juga pembeli kami yang batal karena kondisi dollar AS yang terus melambung dalam beberapa waktu lalu. Mengenaskan sekali,” ujar Rudi.

Harmonisasi PPnBM

Meski pemerintah akan memberlakukan harmonisasi PPnBM, lanjut Rudi, tidak akan berdampak banyak bagi penjualan mobil super di Indonesia. Kecuali, yang punya teknologi listrik atau hibrida, bisa menurun 15 persen harganya.

“Kalau mobil seperti ini (Aston Martin dan lain sejenisnya) menggunakan teknologi turbo, jadi tidak terpengaruh dengan harmonisasi tersebut,” tutur Rudi.

McLaren 720S model 2018 – dok.Car and Driver

Rudi hanya bisa berharap pemerintah juga memberikan perilaku adil kepada semua pebisnis di industri otomotif, salah satunya kepada para importir umum. Secara tujuan, kata dia sama-sama untuk membangun industri lebih baik di Indonesia.

“Jangan justru menjadi lebih mahal harganya ketika mobil itu tiba di Indonesia,” kata dia.(Kpr/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This