Larangan Impor Supercar Berlaku Bulan Ini

Larangan Impor Supercar Berlaku Bulan Ini

Jakarta, Motoris – Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto memastikan, pengendalian impor mobil mewah akan efektif pada bulan ini untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia. Kendaraan yang akan terkena dampak langsung adalah mobil mewah berkapasitas mesin di atas 3000 cc dan yang dikategorikan sebagai supercar.

“Tapi, kalau yang sudah on the way, ya dilanjutkan saja. Untuk kategorinya dari sisi harga sudah tinggi dan kita sudah punya kriteria sesuai PPnBM,” ujar dia di Jakarta, Kamis (6/9).

Dari sisi jumlah, dia menuturkan, sebenarnya kuota impor mobil mewah termasuk kecil. Namun, dengan pelarangan impor mobil mewah ini, pemerintah ingin menunjukan komitmennya terhadap produksi mobil dalam negeri.

“Memang  dari segi jumlahnya tidak besar, tetapi melalui kebijakan ini menjadi sinyal bahwa kita prioritaskan pada produksi nasional yang ikut menggerakan ekonomi kita,” jelas dia.

Baca Juga: Ada yang Balas Dendam, Ekspor Otomotif Meroket 

Ilustrasi super car, Ferrari 812 Superfast (metrotvnews)

Pemerintah berharap dengan kebijakan pengendalian impor termasuk untuk mobil mewah, membuat industri otomotif dalam negeri dapat meningkatkan kapasitas ekspornya agar bisa mendatangkan devisa bagi negara.

Pemerintah merespons dinamika perekonomian global yang saat ini berubah sangat cepat, dengan melakukan penyesuaian tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap 1.147 barang konsumsi dari luar negeri. Kebijakan pengendalian impor ini bertujuan untuk menjaga pertumbuhan industri dalam negeri, peningkatan penggunaan produk lokal, dan perbaikan neraca perdagangan.

Hasil tinjauan terhadap penyesuaian tarif PPh Pasal 22 untuk 1.147 barang konsumsi impor ini dilakukan melalui instrumen fiskal, yakni sebanyak 210 item komoditas yang sebelumnya dikenakan tarif PPh 22 sebesar 7,5% naik menjadi 10% untuk barang mewah, termasuk mobil impor utuh (CBU) bermesin di atas 3.000 cc dan sepeda motor bermesin besar (di atas 500 cc).

Selanjutnya, 218 item dengan tarif PPh awal 2,5% naik menjadi 10%, meliputi barang konsumsi yang sebagian besar bisa diproduksi di dalam negeri, seperti barang elektronik, keperluan sehari-hari (sabun, sampo, dan kosmetik), serta peralatan masak dan dapur.

Sisanya, 719 item dari tarif PPh 22 yang 2,5% naik menjadi 7,5%, berupa barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Contoh komoditasnya antara lain bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual, dan produk tekstil. (gbr)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Mobil Listrik Nissan Khusus Pasar China Cakep Juga.

CATEGORIES
TAGS
Share This