Michio Suzuki, si Tukang Kayu Pendiri Kerajaan Suzuki (2)

Michio Suzuki, si Tukang Kayu Pendiri Kerajaan Suzuki (2)
Michio Suzuki, pendiri Suzuki Motor Corpration, di masa tua - dok.History of Suzuki

Jakarta, Motoris – Ide membuat mobil yang terinspirasi oleh keluhan masyarakat terhadap mobil-mobil Eropa yang beredar, termasuk di Jepang, telah membuat Michio Suzuki terlecut. Dia merasa mendapatkan sebuah energi baru untuk bangkit.

Pria penggila kerja ini pun terus melakukan percobaan. Sebuah tim dia bentuk untuk membuat prototipe mobil dengan dasar mobil Austin Seven, asal Inggris. Mobil bermesin 737 cc itu mereka preteli dan jeroannya diteliti. Dan hasilnya, luar biasa. Sebuah prototipe berhasil mereka buat pada tahun 1938.

Keberhasilan ini semakin mengukuhkan tekad Michio untuk membangun bisnis kendaraan bermotor. Namun apa daya, Jepang yang terlibat Perang Dunia II dan berhadapan dengan sekutu di bawah kepemimpinan Amerika Serikat, harus menerima kenyataan pahit.
Bom atom yang dijatuhkan sekutu di Nagasaki dan Hiroshima meluluh-lantakan berbagai sumber perekonomian. Termasuk fasilitas bisnis milik Michio. Walhasil proyek pengembangan mobil pun mandeg.

Cobaan tak berhenti sampai di situ. Ketika perang usai, pemerintah bersama masyarakat bertekad untuk melakukan pemulihan ekonomi, ternyata gempa bumi dahsyat datang. Lagi-lagi, aset-aset properti pabrik milik Michio juga kembali berantakan.

Kenyataan ini sempat membuat Michio shock. Namun, itu tak lama. Sebab, baginya, kehidupan harus terus berjalan. Impian harus terwujud menjadi kenyataan.

Sepeda motor pertama buatan Suzuki – dok.Istimewa

Lantaran itulah, dengan kekuatan yang ada, dia kumpulkan karyawannya yang dulu dan meminta mereka untuk mengumpulkan berbagai bahan-bahan yang tersisa. Tetapi, bukan untuk membuat mobil seperti yang dia inginkan semula, melainkan kembali membuat alat tenun lagi.

Pilihan ke mesin tenun itu didasari pertimbangan, Jepang akan bangkit lagi dari keterpurukan akibat perang. Industri tekstil akan dipacu untuk menjadi pendorong perekonomian. Sehingga, Michio kembali membuat alat tenun meski memulai usahanya dari nol kembali.

Tak sesuai harapan
Perkiraan Michio ternyata meleset. Produk alat tenun buatannya tak laku. Bisnisnya pun semakin redup. Bahkan, kondisi keuangannya semakin memburuk.

Tak bukanlah Michio jika tak menemukan ide. Saban hari, dia membaca dan menggali informasi tentang apa potensi yng ingin digarap dan menghasilkan keuntungan. Sempat terpikir olehnya, untuk kembali menghidupkan proyek pembuatan mobil yang telah mangkrak.

Tapi, kendala keuangan menjadi permasalahan besar. Masalah inilah yang membuatnya pusing tujuh keliling. Tapi, itu bukan akhir dari segalanya.

Di saat kebuntuan itu, tiba-tiba Michio mendapatkan data yang menyebut lebih dari 1 juta orang Jepang – saat itu – tak memiliki akses ke alat transportasi. Padahal, keberadaan sarana itu sangat penting untuk mobilitas produktif yang bakal menunjang perekonomian.

Sepeda motor Suzuki Colleda tahun 1956 – dok.Suzuki Motor Corporation

Di benak Michio pun terlintas untuk membuat sepeda bermotor, yakni sepeda engkol yang dilengkapi mesin tempel. Maka lahirlah sepeda ‘free power’ yang dilengkapi mesin buatan Suzuki pada tahun 1952.

Ternyata, produk ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Maklum, kualitas mesin Suzuki yang ditempel di sepeda itu, memiliki kualitas yang tinggi.

Singkat cerita, penemuan dan kreatiftas Michio ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Melalui Kantor Hak Paten, pemerintah Negeri Sakura itu memberinya subsidi untuk terus mengembangkan mesin terus melalui serangkaian penelitian dan percobaan.

Perusahaan Michio kian berkembang, tak hanya karena produknya yang semakin berkualitas, tetapi juga karena kebijakan pemerintah yang mendukung. Mulai tahun 1952, pemerintah tak lagi mewajibkan kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi pengendara sepeda motor yang bermesin kecil.

Berbagai produk lahir
Kebijakan inilah yang kemudian memicu permintaan sepeda bermotor semakin menjulang. Termasuk produk sepeda motor dari Michio. Lantaran itu pula, Michio mengembangkan mesin sepeda motornya – Free Power’ dari 36cc menjadi 60cc. Maka lahirlah varian sepeda motor baru ‘Diamond Free’ pada tahun 1953 dan ‘Mini Free’ pada tahun 1954.

Penjualan produk pun semakin melejit. Tercatat, lebih dari 4.000 unit lebih sepeda motor Suzuki berhasil dilego saban bulannya. Dan produksinya mencapai 5.000 unit lebih, dimana sebagian diekspor ke negara-negara di Asia.

Melihat keberhasilan ini pula, Michio Suzuki memutuskan untuk fokus ke bisnis pembuatan kendaraan bermotor. Nama perusahaan Suzuki Loom Manufactured Company pun dia ganti menjadi Suzuki Motors Ltd.

Petugas tengah membersihkan Suzuki All New Ertiga yang dipajang di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Berawal dari pembuatan bracket untuk mesin tempel sepeda, Suzuki mencoba membuat sepeda motor pertamanya dengan mesin 90cc. Dan tepat pada Juni 1954 perusahaan ini berhasil meluncurkan sepeda motor pertamanya – bukan lagi sepeda yang ditempeli mesin, melainkan kendaraan yang berwujud sepeda motor- yang diberi nama ‘Colleda’.

Moncernya penjualan sepeda motor membuat Suzuki semakin semangat memproduksi kendaraan. Tak lama kemudian, cikal bakal mobil penumpang pun dirilis dengan nama ‘Suzuki Light’.

Hanya, sampai 1960-an, tak banyak Colleda yang diekspor. Sehingga Suzuki pun berusaha untuk memproduksi mobil dengan basis ‘Suzuki Light’. Mobil pertama yang resmi dbuat secara massal dan dipasarkan secara luas adalah T500 yang dibuat pada tahun 1967. Mobil ini juga diekspor ke Amerika Serikat dan Inggris dengan nama Titan (di Amerika) dan Cobra (di Inggris).

Sejak itulah, varian demi variab produk terus diproduksi, antara lain Suzuki Alto , Suzuki Vitara, Wagon R, dan lain-lain. Bisnis pun semakin menggurita dengan jaringan penjualan dan produksi yang menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Michio Suzuki pun lega, apa yang telah dirintisnya telah berbuah manis. Nama Suzuki berkibar sebagai pabrikan kelas dunia. Pria tangguh yang dikenal cerdas dan ulet ini menghembuskan nafas terakhir pada 1982 dalam usia 94 tahun. (Ara/Berbagai sumber)

 

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This