Pemerintah Sebut Mobil Listrik Hemat Energi Hingga 80%

Pemerintah Sebut Mobil Listrik Hemat Energi Hingga 80%
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono melakukan tes drive Toyota Prus Plug-in hybrid - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut, mobil listrik mampu menghemat energi hingga 80% dibandingkan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Dia mengatakan hal itu setelah mempelajari hasil riset yang dilakukan sejumlah perguruan tinggi yang didorong Kementerian Perundustrian bersama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, serta industri otomotif.

“Berdasarkan penelitian, rata-rata mobil listrik jenis hibrid itu bisa hemat 50%, sedangkan yang plug-in hybrid bisa lebih hemat lagi hingga 75-80%,” tutur Airlangga saat menyampaikan Final Report 1st Round Electrified Vehicle Comprehensive Research & Study”dalam keterangan resmi, Kamis (8/11/2018).

Menurut Airlangga, jika bahan bakar B20 (Biosdiesel 20%) saja bisa menghemat sekitar 6 juta kilo liter, maka dengan hybrid atau plug-in hybrid penghematan yang dilakukan negara bisa mencapai dua kali lipat. Selain menghemat anggaran, keberhasilan itu juga akan emberikan dampak yang besar terhadap lingkungan.

Hal itu, lanjut Ketua Umum DPP Partai Golkar itu, sejalan dengan komitmen pemerintah yang berusaha terus menerus untuk menurunkan emisi gas rumah kaca atau CO2 sebesar 29% pada tahun 2030 nanti. “Ini juga sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi darat.,” ucap Airlangga.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) bersama Chief Executive MMC Osamu Masuko mengendarai Outlander PHEV – dok.MMKSI

Fakta-fakta yang disodorkan pemerintah ini merupakan laporan hasil riset dan studi tahap pertama ini yang dilakukan oleh tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah riset tentang konsumsi BBM, riset lanjutan dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Udayana, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Semua data yang terkumpul dari serangkaian riset tersebut nantinya dikumpulkan dan dianalisa, kemdian dibuat kesimpulan. Hasil itulah yang akan djadikan referensi oleh Kemenperin. Riset lanjutan atau kedua tersebut dijadwalkan rampung pada Januari 2019. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS