Penjualan LCGC Rawan Ambles Lagi

Penjualan LCGC Rawan Ambles Lagi
Ilustrasi Daihatsu Sigra Dress Up di GIIAS 2018 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Penurunan penjualan mobil hemat energi dan harga terjangkau (LCGC) sebesar 4,28% yang terjadi di rentang waktu Januari-Oktober lalu, dikhawatirkan masih akan terjadi di tahun 2019 nanti. Hal itu bakal menjadi kenyataan jika perbankan dan lembaga pembiayaan mengerek suku bunga kredit.

Menurut Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 6% setelah dikerek sebesar 25 basis poin (bps) pada pertengahan November lalu jika direspon oleh bank dan lembaga pembiayaan dengan menaikan bunga pinjaman akan memberatkan calon konsumen.

“Terutama di segmen LCGC. Memang tidak semua pembeli mobil ini merupakan kelompok entry level (kelompok pemula dalam kepemilikan) mobil.Tetapi sebagian besar adalah entry level,” tutur Jongkie saat dihubungi, Selasa (4/12/2018).

Kelompok pemula ini, lanjut dia, umumnya masih sensitif terhadap harga. Sehingga, jika bunga naik dan harga jual mobil juga naik, maka kemungkinan besar mereka akan menunda pembelian.

Baca juga: Indonesia Mau Lepas Label Produsen Mobil Murah

Toyota Agya dengan dandanan sport – dok.Motoris

Sementara itu, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, memperkirakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tertekan di tahun 2019. Pasalnya, defisit transaksi berjalan diperkirakan masih akan terjadi di tahun itu.

Dia menyodorkan fakta, sepanjang kuartal ketiga 2028 ini atau selama Juli – September lalu masih senilai US$ 8,8 miliar atau setara dengan 3,37% produk domestik bruto (PDB). Sedangkan sapai saat ini 70% ekspor berupa bahan mentah dan olahan primer yang notabene harganya sangat rentan terhadap gejolak pasar.

Sementara, kata Bhima, industri manufaktur makin turun porsinya terhadap PDB. Sehingga, kalau nilai ekspor lebih kecil dibanding impor, maka kemungkinan besar rupiah juga masih tertekan.

“Kalau rupiah melemah, dan produsen (APM kendaraan) yang mengimpor komponen tidak menaikan harga ya tinggal kuat-kuatan (dengan tekanan nilai tukar) saja,” paparnya saat dihubungi, Selasa (4/12/2018).

Baca juga: Program Minta Diperpanjang, Transmisi LCGC Masih Impor

Kenaikan harga
Tekanan nilai tukar seperti itu juga dihadapi semua sektor, tak terkecuali industri otomotif. Sehingga, meski tak memastikan, Bhima melihat ada kecenderungan harga jual produk otomotif juga menyesuaikan dengan nilai tukar rupiah.

Data Gaikindo menunjukan, di kurun waktu Januari-Oktober penjualan LCGC dari pabrik ke diler atau wholesales sebanyak 190.733 unit. Jumlah ini menciut 4,28% dibanding rentang waktu yang sama di tahun lalu.

Honda Brio – dok.Istimewa

Dari lima LCGC yang disuguhkan di pasar – yakni Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio, Datsun, Toyota Calya, dan Daihatsu Sigra – hanya Daihatsu Sigra dan Honda Brio saja yang masih membukukan kenaikan penjualan.

Sigra mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 16,29% dengan total penjualan sebanyak 42.704 unit. Sedangkan Brio Satya mencatatkan penjualan sebanyak 36.239 unit atau naik 4,27%.

Sementara penjualan LGCG lainnya ambles. (Ara)

CLICK For more..

CATEGORIES
TAGS
Share This