Penjualan Kwid Bonyok, Renault Indonesia Ngeles

Penjualan Kwid Bonyok, Renault Indonesia Ngeles
Ilustrasi Renault Kwid - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Maxindo Renault Indonesia (MRI) – pemegang merek Renault yang baru dan menggantikan Indomobil – mengakui penjualan Renault Kwid yang diluncurkan akhir tahun 2016 lalu hingga kini masih lesu. Namun, kelesuan penjualan itu disebut bukan karena faktor merek (brand) dari Renault yang nota bene merek non Jepang.

Seperti dikatakan Chief Operation Officer MRI, Davy Tuilan, redupnya penjualan Kwid bukan persoalan merek Jepang atau non Jepang. Menurutnya soal asal muasal merek atau produk memiliki peluang yang sama.

“(Tetapi) karena Renault Kwid (yang dijual) kemarin itu enggak ada (varian bertransmisi) matik. Padahal, kita tahu kalau di kota besar seperti Jakarta, orang kan lebih suka mobil transmisi matik (otomatis). Mungkin, kalau di luar kota masih bisa terima mobil manual.,” tutur Davy saat peresmian diler Renault Pluit, Jakarta Utara, Minggu (24/2/2019) lalu.

Lantaran itulah, kata Davy, MRI berencana tetap akan memasarkan Kwid namun yang dikembangan sesuai dengan selera masyarakat konsumen di Indonesia. Meski begitu, Davy tak menyebut apakah perubahan yang akan dilakukan itu minor atau major.

“Tetapi yang pasti, (Renault) Kwid yang nanti dimasukan (ke Indonesia) betul-betul dari Maxindo, dan akan ada improvement,” kata dia.

Ilustrasi, Renault kwid outsider. dok. Motor1.com

Kepala Riset Eternity Marketing Ressearch Specialist, Garibaldy Warlinan menyebut ada tiga hal utama yang menjadi pertimbangan calon pembeli mobil. Ketiganya adalah, tampilan atau gaya desain, harga, serta brand atau merek.

“Tampilan itu first impression bagi calon pembeli. Mereka akan melihat tampilannya apakah mengikuti tren terkini atau tidak. Dalam tampilan ini para calon pembeli juga melihat bagaimana fitur-fiturnya, teknologinya,” tutur pria yang akrab disapa Gery itu saat dihubungi di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Setelah tampilan, faktor kedua yang dipertimbangkan adalah harga. Calon konsumen akan melihat apakah harga yang dipatok agen pemegang merek cukup rasional dibanding dengan pesaing. Mereka kemudian mengukur kemampuan atau daya belinya, apakah menjangkau harga mobil tersebut atau tidak.

“Dan yang ketiga brang atau merek. Brand di sini bukan sekadar nama, tetapi juga brand association dan brand value. Konkretnya, bagaimana jaringan penjualan dan layanan purna jual merek itu. Mulai dari layanan perawatan, perbaikan, dan ketersediaan suku cadang. Bagaimana kualitas ketangguhan dan keawetan produk, seberapa banyak orang yang membeli mobil itu. Dan, bagaimana harga jual kembali jika mobil tersebut dijual,” papar Gery.

Renault Kwid versi facelift – dok.Autoportal

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonsia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang tahun 2017, atau setahun setelah diluncurkan, Kwid hanya terjual 163 unit. Sedangkan di tahun 2018 dari total penjualan Renault Indonesia yang sebanyak 239 unit, Kwid hanya laku 49 unit. (Fan/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This