Bakal Dikenai PPnBM, Ini Syarat Agar LCGC Tetap Murah

Bakal Dikenai PPnBM, Ini Syarat Agar LCGC Tetap Murah
salah satu LCGC, Toyota Agya - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Seiring dengan rencana yang diajukan pemerintah untuk mengubah skema penetapan besaran tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil yang sebelumnya mengacu pada besaran kapasitas mesin ke besaran emisi gas buang bakal menantang industri pembuat Kendaraan Bermotor Hamat energi dan Harga terjangkau (KBH2 atau LCGC). Sebab, jika mobil kategori itu tetap beremisi sama dengan yang ada sekarang, maka akan dikenai PPnBM sebesar 3%.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengaku belum bisa banyak berkomentar terkait dengan pernyataan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di depan Komisi XI DPR, Senin (11/3/2019) lalu itu. Dia mengaku masih menunggu aturan yang sudah final terkait itu.

“Tetapi kalau memang benar seperti itu, tentu menjadi tantangan tersendiri industri atau produsen. Karena memang mobil ini kan diposisikan sebagai mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau. Tentunya, kata-kata ramah lingkungan itu juga harus diwujudkan, yaitu membuat mobil yang beremisi rendah dan irit bahan bakar,” ungkap Jongkie saat dihubungi, Kamis (14/3/2019).

Saat ini, mobil-mobil yang masuk dalam kategori LCGC memiliki tingkat konsumsi bahan bakar hingga 20 kilometer per liter (kpl). Oleh karena itu, untuk LCGC yang baru nantinya – atau jilid II – diharapkan bisa mencapai 23 kpl atau bahkan kalau bisa lebih.

Ilustrasi Honda Brio – dok.Istimewa

Dengan begitu, harga LCGC tetap terjangkau. Sebab, tidak mungkin – dengan skema penetapan tarif PPnBM mobil yang baru dengan acuan besaran emisi – LCGC benar-benar besar dari PPnBM.

“Yang pasti, kami mendukung kebijakan pemerintah. Dan bagaimana program LCGC itu tetap dilanjutkan, karena setelah lima tahun atau sejak 2013, program ini berhasil, menciptakan nilai positif ke industri karena industri komponen tumbuh, investasi terjadi, penyerapan tenaga kerja, hingga alih teknologi,” papar Jongkie.

Sebelumnya, Airlangga mengatakan kendati dikenai tarif PPnBM sebesar 3%, tetapi soal kemungkinan ada insentif lain masih ada untuk LCGC. Namun, dengan catatan menggunakan mesin ramah lingkungan.

Ilustrasi, Daihatsu Ayla – dok.Istimewa

“Kalau dia (LCGC) masih tetap menggunakan mesin dengan kadar emisi (CO2) seperti sekarang dan Euro 2, maka dikenai tarif PPnBM sebesar 3%,” ungkap Airlangga. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This