Luput dari Maut, Produksi Mobil Imut Smart Dipindah ke Cina

Luput dari Maut, Produksi Mobil Imut Smart Dipindah ke Cina
Smart Fortwo - dok.Autoblog

Hangzhou, Motoris – Setelah sempat menghadapi kemungkinan terburuk untuk diakhiri kiprahnya di jagat otonotif dunia karena penjualannya yang tak mencapai target, mobil mungil Smart akhirnya lolos dari “maut” tersebut. Adalah Geely Automobile Holding Limited, yang merupakan mitra Daimler AG- sang pemilik – menjadi “dewa penyelamat” kondisi itu.

Seperti dilaporkan AFP, CNN, dan Reuters, Kamis (28/3/2019), Daimler telah mengumumkan Geely yang merupakan pemegang saham 9,69% saham Daimler telah setuju mengguyur dana segar. Porsi saham pun dibagi 50:50 diantara mereka.

Persiapan kolaborasi diharapkan akan selesai pada akhir 2019, kemudian kendaraan baru akan dijual di global pada 2022. “Kerjasama ini akan membangun generasi baru dari citycar Smart di pabrik yang dibangun khusus di Cina. Kedua belah pihak akan berbagi keahlian di bidang manufaktur, teknik dan desain dengan Geely,” demikian bunyi pernyataan Daimler dan Geely.

Dengan demikian, Smart akan meninggalkan kampung halamannya di Prancis dan hijrah ke Negeri Tirai Bambu. Namun, proses produksi kendaraan ini akan tetap di bawah supervisi Mercedes-Benz, meski teknik kendaraan akan disediakan oleh Geely.

Tampang belakang mobil imut Smart – dok.Autoblog

“Tidak ada karyawan kami di smart yang akan kehilangan pekerjaan karena keputusan ini,” tutur Chairman Mercedes-Benz Dieter Zetsche dalam sebuah pernyataan.

Smart yang diluncurkan pertama kali di ajang Frankfurt Motor Show 1997 itu, penjualannya memang seret. Bahkan, di beberapa tahun terakhir selalu mekeset dari target.

Volume penjualannya selalu di bawah 200.000 unit. Bahkan tahun lalu total jenderal penjualannya di pasar global hanya 130.000 unit.

Smart Fortwo juga diproduksi dalam versi bersumber tenaga dari listrik – dok.Autoblog

Dengan lemotnya penjualan ini, pengembangan model atau generasi baru Smart pun terkatung-katung. Lebih dari itu, Daimler sudah “terkesan” patah arang dan akan menentukan nasib Smart untuk diteruskan atau tidak pada tahun 2020 nanti.

Beruntung, keputusan itu tak harus menunggu tahun 2020, karena pabrikan asal provinsi Zhejiang, Cina, itu langsung sigap. Perusahaan yang didirikan Li Shufu pada tahun 1986 – dan menjadi perusahaan yang gencar membeli saham pabrikan otomotif kondang seperti Volovo, Daimler, dan Proton – itu menjadi penyelamat Smart dari “maut”.(Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This