Pengusaha: Bus Ultra High Deck Belum Tentu Disukai

Pengusaha: Bus Ultra High Deck Belum Tentu Disukai
Ilustrasi, bus Jetbus 3+ UHD garapan karoseri Adiputro di GIIAS 2018 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Munculnya bus bergaya desain Ultra High Deck (UHD) di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 lalu disebut bakal menjadi idola baru bagi konsumen pengguna bus maupun pengusaha bus. Bahkan, General Manager of PT United Tractors Tbk, Harijadi Mawardi juga sempat menyinggung kemungkinan tersebut.

“Sekarang kan mereka (perusahaan otobus) suka yang dek tinggi, karena di bagian bawahnya bisa digunakan sebagai bagasi luas, jadi bisa buat angkut motor. Kalau yang double deck agak tanggung, karena di bawah gak bisa bawa banyak,” kata Harijadi di sela acara Scania Trans Jawa Gathering di Cakung, Jakarta Timur, Selasa (2/4/2019).

Namun, kalangan pelaku usaha angkutan bus mengaku bisa saja iya atau sebaliknya, tidak, bus jenis itu disukai dan medapatkan respon positif dari pengusaha maupun masyarakat pengguna bus. “Jadi bisa iya, bisa juga tidak. Kalau dibilang bus jenis itu akan diminati. Sampai hari ini belum ada bus reguler yang pakai (bus jenis itu),” kata Direktur Utama PO Putera Mulya, Kurnia Lesani Adnan kepada Motoris, Rabu (3/4/2019).

Menurutnya, biaya atau harga karoseri bus UHD sangat mahal atau kalau dihitung-hitung hampir sama dengan karoseri bus double decker. “Kalau body kosongan saja (tanpa jok dan fitur lainnya) Rp 650 juta. Kalau sudah include (termasuk jok dan fitur lainnya) bisa Rp 900 juta atau bahkan lebih,” ujar dia.

Tampilan belakang bus UHD – dok.Motoris.id

Memang, kelebihan dari bus jenis ini adalah bagian bawah yang bisa digunakan untuk bagasi luas yang bisa menampung barang-barang ukuran besar seperti sepeda motor atau kulkas. “Dan bangkunya memang, juga lebih banyak dibanding semi high deck. Tapi, investasi yang mahal itu, yang menjadi pertimbangan teman-teman PO (perusahaan otobus),” kata pria yang juga Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia itu.

Pernyataan serupa diungkapkan pemilik PO Sumber Alam, Anthony Steven Hambali. Menurutnya, selain faktor harga, pertimbangan lainnya adaah aspek keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan.

“(harga karoseri) memang lebih mahal. Untuk bus dengan jalur yang memungkinkan seperti jalan told an jalan nasional yang tidak banyak tanjakan dan kelokan sepertinya bisa menjadi favorit. Apalagi, bagi bus yang melayani (kiriman) paket,” kata dia dalam pesan elektronik kepada Motoris, Rabu (4/4/2019).

Artinya, lanjut Anthony, bus jenis itu lebih pas digunakan untuk perusahaan yang melayani trayek di jalur tol atau bus pariwisata di dalam kota. Artinya, segmen bus tersebut terbatas. “Sementara untuk pasar dan rute kami ( PO Sumber Alam), belum memerlukan bus jenis ini,” imbuh dia. (Fan/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This