Penjualan Mobil “Ngegas” Lagi, Jika Tiga Hal Ini Terjadi

Penjualan Mobil “Ngegas” Lagi, Jika Tiga Hal Ini Terjadi
Ilustrasi mobil yang dipamerkan di GIIAS 2018 - dok.Motoris.id

Jakarta, Motoris – Setelah sepanjang kuartal pertama – Januari hingga Maret – lalu penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih (wholesales) ambles 13,1%  dan ritel ambles 10,8% dibanding tahun lalu, kalangan industri berharap di kuartal kedua naik.

Untuk menopang kenaikan itu penyaluran kredit perbankan diharapkan naik, begitu pun dengan pertumbuhan ekonomi dan membaiknya nilai tuar rupiah.

“Tentunya, kalau penyaluran kredit naik, Itu artinya penyerapan kredit oleh masyarakat terutama di sektor konsumsi (termasuk pembelian kendaraan) juga naik. Kondisi seperti itu, juga harus dibarengi oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi. Begitu pula dengan nilai tukar rupiah yang semakin kuat,” papar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat dihubungi di Jakarta, Kamis (18/4/2019).

Jika semua aspek tersebut terwujud di kuartal kedua hingga seterusnya, lanjut Jongkie, maka target penjualan 1,151 juta unit bisa tercapai. Bahkan bisa lebih.

Ilustrasi, suguhan mobil-mobil baru yang ditawarkan ke konsumen di booth Suzuki di IIMS 2018-dok.Motoris

“Itu kuncinya. Karena tahun ini kita ada sejumlah pameran otomotif (termasuk dalam rangkaian GIIAS dan IIMS 2019). Sedangkan agen pemegang merek juga banyak yang menawarkan model baru atau versi baru dari model-model yang dimilikinya,” ujar Jongkie.

Pernyataan senada diungkapkan Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM, Fransiscus Soerjopranoto, saat ditemui di Jakarta, Senin (15/4/2019) malam. Faktor pembiayaan atau kredit, kata Soerjo, itu penting.

“Apalagi kalau ekonominya growth lebih baik lagi (di atas 5,2%), dan rupiah menguat. Recovery penurunan di kuartal pertama akan cepat terjadi, karena faktor yang menyebabkan penurunan (penjualan) di Q1 (kuartal satu) kan bukan fundamental saja, tetapi ada pemilu,” ungkap dia.

Hanya, lanjut Soerjo, pasca Pemilu, tak akan serta merta penjualan mobil langsung kembali melejit. Namun, butuh waktu untuk melakukan pemulihan, paling tidak hingga enam bulan. Artinya, pemulihan akan terjadi pada September nanti.

Kredit dan Investasi

Sementara itu, hasil penelitian Bank Indonesia yang dilansir di situs resmi bi.go.id, Selasa (16/4/2019) menyebut pertumbuhan kredt di kuartal pertama tahun ini melambat dibanding trwulan sebelumnya (Oktoer-Desember 2018). Jika di kuartal sebelumnya penyaluran mencapai 70%, di kuartal ertama 2019 ini hanya 50%.

Sementara, soal pertumbuhan ekonomi, seperti yang dikatakan Gubernur BI, Perry Warjiyo, selama kuartal pertama masih sebesar 5,2%. Angka ini terbilang stagnan dibanding tahun lalu. Namun di kuartal kedua diperkirakan meningkat atau lebih baik.

“Kondisi trwulan (kuartal pertama) seperti itu wajar. Karena kondisi ini sering terjadi setiap triwulan pertama.  Triwulan berikutnya investasi akan tinggi lagi,” ujar Perry di Jakarta, Jumat (12/4/2019) lalu.

Ilustrasi kredit mobil – dok.Kengarff.com

Menurutnya, membaiknya pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh pertumbuhan dana asing yang masuk ke Tanah Air. Tercatat, sejak awal tahun hingga akhir kuartal pertama dana yang masuk mencapai Rp 73 triliun. Investasi asing ke Surat Berharga Negara sebesar Rp 62,5 triliun dan sisanya ke pasar saham.

“Ini menunjukkan kepercayaan kepada Indonesia bagus,. Dan nilai tukar rupiah akan stabil,” kata Perry. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This