Jakarta Kerek Tarif BBN, Pasar Mobil Bisa Makin Ambrol

Jakarta Kerek Tarif BBN, Pasar Mobil Bisa Makin Ambrol
DKI Jakarta Kerek Tarif BBN, Pasar Mobil Bisa Makin Ambrol

Jakarta, Motoris – Kenaikan tarif pajak Bea Balik Nama (BBN) 1 untuk kendaraan bermotor – mobil dan sepeda motor – yang diusulkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari 10% menjadi 12,5%, dinilai bakal berdampak ke penjualan kendaraan di Indonesia. Terlebih, usulan seperti ini juga disetujui oleh pemerintah provinsi di Jawa dan Bali.

“Tentu, ini akan berdampak. Apalagi, kalau kita lihat fakta yang ada saat ini, wilayah Jawa dan Bali, terutama di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), merupakan wilayah penyerap kendaraan bermotor terbebesar di Indonesia. BBN naik, berarti kan harga juga naik,” tutur Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat dihubungi Motoris, Rabu (26/6/2019).

Menurutnya, DKI Jakarta, selama ini mentumbang penjualan mobil baru sekitar 30-40% dari total penjualan mobil secara nasional. Sedangkan, jika digabung seluruh wilayah Jabodetabek ( di sini ada wilayah Jawa Barat yang paling banyak menyerap yakni Bogor dan Bekasi), penyerapan mobil baru mencapai 55-60%.

“Apalagi, kalau bicara wilayah Jawa-Bali. Karena, katanya, kenaikan BBN ini juga diberlakukan oleh pemerintah daerah di wilayah ini. Tetapi, seberapa besar dampaknya, belum bisa dilihat. Mudah-mudahan tidak signifikan, karena biasanya yang sensitif terhadap kenaikan harga (karena BBN) ini yang segmen entrylevel,” ungkap Jongkie.

Ilustrasi, Daihatsu Xenia terbaru di IIMS 2019 – dok.Motoris

Harapan serupa diungkapkan Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala. Sebab, kata Sigit, wilayah Jawa dan Bali selama ini tercatat sebagai pasar terbesar.

“Tetapi, mudah-mudahan tidak signifikan dampaknya. Karena yang sensitif itu yang di segmen bawah (entry level). Tetapi, kalau bicara kredit (pembelian secara kredit) kan kenaikan harga itu tidak begitu dirasakan mencolok oleh konsumen. Jadi mudah-mudahan tidak besar (dampaknya),” kata Sigit.

Target tak meleset
Seperti halnya Jongkie, Sigit mengaku masih optimis target penjualan motor 6,3 juta unit pada tahun ini masih bisa tercapai. Pasalnya, masih ada waktu 7 bulan. Selain itu, sejumlah pameran dan model baru yang kabarnya bakal disuguhkan agen pemegang merek diharapkan memantik keinginan konsumen.

Sebelumnya, Kepala Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) DKI Jakarta Faisal Syafruddin saat dihubungi, Selasa (25/6/2019) menyebut, usulan kenaikan tarif BBN dari 10 menjadi 12,5% ini bisa diberlakukan mulai Juli nanti.

“Jadi ada dua hal yang ingin dicapai. Pertama, untuk mengurangi kemacetan karena dengan kenaikan tarif BBN ini harga (kendaraan) juga naik, sehingga orang beralih ke angkutan umum. Kedua, kita mendapatkan tambahan pendapatan pajak,” kata dia.

Ilustrasi booth Astra Honda Motor di IIMS yang dipadati pengunjung – dok.Motoris

Dia mengatakan, kebijakan mengerek tarif BBN ini bukan hanya dilakukan Pemprov DKI Jakarta saja, tetapi juga pemerintah daerah lainnya di wilayah Jawa dan Bali. “ Ini juga telah disepakati oleh pemerintah daerah se-Jawa Bali, dalam rapat terbatas Asosiasi Bapenda se-Jawa-Bali pada 12 Juli 2018 lalu. Bahkan, daerah-daerah lain sudah memberlakukannya. Jadi ini bukan sesuatu yang baru,” imbuh Faisal.

Fakta berbicara, di rentang waktu Januari-Mei tahun ini total penjualan mobil memang ambrol 14,7% dibanding kurun waktu yang sama tahun lalu. Jika tahun lalu masih sebanyak 494.931 unit, tahun ini hanya 422.038 unit (Mul/Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This