Menelisik Biang PHK Belasan Ribu Karyawan Nissan

Menelisik Biang PHK Belasan Ribu Karyawan Nissan
Ilustrasi, Nissan berpartisipasi dalam sebuah pameran otomotif - dok.Webcenter11

Jakarta, Motoris – Dalam sepekan terakhir, pemberitaan mengenai langkah Nissan Motor Company (NMC) yang bakal merumahkan 12.500 karyawannya di seluruh dunia menjadi sorotan industri otomotif. Langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut dipicu oleh jebloknya kondisi keuangan perusahaan.

Laba bersih pabrikan mobil asal Yokohama, Jepang yang terjun bebas 99% sepanjang kuartal kedua lalu di banding yrun waktu yang sama tahun lalu. Di periode itu laba bersih yang dibukan hanya 1,6 miliar yen.

Seperti diungkapkan Chief Executive Officer NMC, Hiroto Saikawa, yang dilansir CNN dan Reuters, akhir pekan lalu, menyebut akibat performa keuangan yang memble tersebut manajemen dengan berat hati bakal merumahkan karyawan sebanyak dua kali lipat dibandingkan perkiraan awal yang dibuat Mei 2019 lalu.

Ilustrasi, Nissan Motor Indonesia berparisipasi di GIIAS 2019 dengan menyuguhkan Nissan X-Trail Facelift – dok.Motoris

Ketika itu, NMC mengungkapkan rencana PHK atas 4.800 karyawannya di berbagai negara.“Fasilitas produksi di luar negeri yang mengalami rugi akan jadi target utama pemangkasan produksi dan karyawan,” kata Saikawa.

Skandal Carlos Ghosn
Berbicara performa buruk NMC hingga akhirnya merumahkan belasan ribu karyawan, tidak lepas dari sejumlah skandal keuangan yang menjerat bekas Chairman sekaligus Chief Executive Officer Grup Renault-Nissan-Mitsubishi, Carlos Ghosn.

Pria kelahiran Porto Velho, Brazil, pada 9 Maret 1954 silam sebelumnya dikenal sebagai dewa penyelamat yang berhasil memperbaiki kinerja Renault dan Nissan hingga kembali disegani di dunia otomotif internasional.

Namun pada November 2018 lalu, Kepolisian Jepang menangkap Ghosn karena dituduh tidak melaporkan pendapatannya sekitar US$ 44 juta atau sekitar Rp641 miliar dalam kurun waktu lima tahun.

Ghosn menghadapi tiga tuduhan pelanggaran keuangan dari Kejaksaan Jepang akibat melaporkan nilai penerimaan kompensasi lebih rendah dari yang ia terima. Serta berusaha memindahkan data kerugian investasi pribadi ke data keuangan Nissan.

Carlos Ghosn – dok.The National

Atas penangkapan itu, kredibilitas NMC sebagai perusahaan otomotif yang berstatus sebagai perusahaan terbuka mendapatkan sentimen negatif dari pasar modal. Dewan Direksi NMC sendiri berupaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dengan langsung memecatnya.

Setelah ditahan selama lebih dari 100 hari sejak November 2018, Ghosn kemudian dibebaskan pada Maret 2019 dengan membayar uang jaminan sebesar US$ 9 juta.

Namun, belum genap satu bulan menghirup udara bebas, Kepolisian dan Kejaksaan Jepang kembali menjemput Ghosn di kediamannya di pusat kota Tokyo. Kali ini Jaksa Penuntut memeriksa dugaan keterlibatannya dalam transfer dana US$ 15 juta milik NMC ke distributor di Oman.

Transfer dana itu diduga merugikan NMC, karena sekitar 5 juta dolar AS diyakini telah digunakan untuk keperluan pribadi, yaitu membeli kapal mewah untuk keluarganya.

Prediksi penjualan
Meski tengah terbelit skandal bekas bos yang berdampak pada keputusan PHK karyawan, namun analis Bloomberg meramal kinerja keuangan NMC pada tahun fiskal 2019 akan tetap baik.

Jika sepanjang tahun lalu NMC menjual 5,51 juta unit mobil, tahun 2019 ini target penjualan naik menjadi 5,54 juta unit.

Untuk mencapainya, NMC diminta untuk memfokuskan upaya membangun basis operasional yang memastikan profitabilitas yang konsisten dan stabil. Perusahaan juga bakal membangun inisiatif untuk memperkuat operasional perusahaan di AS.

Pabrik Nissan di Inggris – dok.The Independent

Maklum, data penjualan perusahaan mengatakan bahwa penjualan unitnya turun 9,3% menjadi hanya 1,444 juta unit. Hal yang sama juga terjadi di Eropa dan Rusia, dimana NMC harus rela menerima penurunan penjualan sebesar 17,8%. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This