Plug-in Hybrid, Mobil Listrik Paling Aman Meski Setrum PLN Padam

 Plug-in Hybrid, Mobil Listrik Paling Aman Meski Setrum PLN Padam
Mobil Plug-in Hybrid, Mitsubishi Outlander PHEV dipamerkan di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Rencana pemerintah mewujudkan era baru industri otomotif dengan menggenjot produksi mobil listrik di Indonesia, baru saja dibenturkan dengan tantangan berat bernama pemadaman listrik. Sejak Minggu (4/8) siang, PT PLN (Persero) tidak bisa memasok listrik untuk masyarakat yang tinggal di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat akibat gangguan transmisi Ungaran-Pemalang 500 kV.

Hal tersebut jelas mengganggu persiapan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang sedianya akan meneken Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik dalam waktu dekat. Pasalnya, payung hukum yang akan menjadi peta jalan pengembangan industri mobil listrik di Indonesia itu mensyaratkan tersedianya Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang tersebar di beberapa sudut kota.

Tanpa adanya jaminan pasokan yang lancar untuk mengisi baterai mobil listrik, bukan tidak mungkin mimpi Indonesia memproduksi mobil listrik menjadi cemoohan pelaku industri otomotif negara lain.

Toyota Prius Plug-in Hybrid – dok.Toyota Europe

Dahulukan Hybrid dan Plug-in Hybrid

Sebagai solusi atas kondisi infrastruktur pendukung mobil listrik tersebut, para pentolan perusahaan otomotif Indonesia angkat suara. Salah satunya adalah dengan meminta pemerintah fokus mendorong pengembangan mobil listrik jenis hybrid dan plug-in hybrid terlebih dahulu.

Presiden Direktur PT Mitsubishi Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Naoya Nakamura beberapa waktu lalu mengungkapkan dengan memprioritaskan mobil jenis plug-in hybrid, maka pemerintah akan membantu proses transisi dari mobil bertenaga bahan bakar minyak (BBM) ke mobil listrik seutuhnya.

“Sebagai masa transisi memasuki era mobil listrik dan kesiapan infratruktur, kendaraan plug-in hybrid (PHEV) adalah model yang paling cocok dengan kondisi Indonesia saat ini. Kita mengawalinya sebagai yang pertama di Indonesia,” kata dia.

Konsep MPV hybrid Daihatsu yang diperkenalkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Mitsubishi sendiri menurut Nakamura memiliki tiga jenis mobil listrik dalam sosok Outlander. Pertama bisa dioperasikan secara full listrik, listrik yang dibantu mesin bensin untuk isi ulang baterai, atau dua-duanya listrik dan bensin.

“Jadi kalau mobil full listrik dengan kondisi Indonesia yang belum ada fasilitas fast charging, Outlander ideal untuk kondisi Indonesia saat ini,” ujar Nakamura setengah berpromosi.

Senada dengan Nakamura, produsen mobil terbesar di Indonesia PT Toyota Astra Motor (TAM) juga memiliki hitungan yang sama. Terlebih, dengan melihat infrastruktur di Indonesia yang belum banyak memiliki SPLU. Sebab itu, mereka memilih mendatangkan kendaraan listrik hybrid dan plug-in hybrid terlebih dulu.

Direktur Marketing TAM, Anton Jimmi Suwandy menjelaskan, kendaraan hybrid dinilai cocok digunakan di Indonesia sebelum menuju mobil listrik sepenuhnya.

PT Toyota Astra Motor gencar melakukan edukasi kepada masyarakat soal mobil hybrid. Di hajatan GIIAS 2019, Toyota menyuguhkan sedan Prius hybrid yang dibelah sebagai sarana edukasi – dok.Motoris

“Model ini merupakan gabungan antara mesin bensin konvensional dengan motor listrik, sehingga pengguna kendaran tidak perlu khawatir baterai habis,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Peta Jalan Kementerian Perindustrian

Gayung bersambut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selaku regulator industri otomotif nasional juga akan mengutamakan mobil listrik hybrid dan plug-in hybrid dalam peta jalan pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin sebelumnya mengatakan hasil riset International Energy Agency (IEA) menjadi salah satu referensi instansinya dalam menyusun peta jalan tersebut.

Dalam risetnya berjudul Energy Technology Perspectives, IEA memproyeksi mobil plug-in hybrid akan menjadi varian mobil listrik yang paling laris terjual dalam kurun waktu 20 tahun ke depan. Riset IEA menyebutkan mobil yang baterainya dapat diisi ulang dengan colokan listrik tersebut, bakal menguasai 20 persen penjualan kendaraan bermotor global pada 2040 mendatang.

IEA menyebut penjualan terbesar kedua di angka 15 persen diisi oleh dua jenis mobil listrik yaitu hybrid dan mobil listrik murni (electric vehicle). Sementara fuel cell vehicle yang sejauh ini teknologinya baru dikuasai oleh produsen otomotif asal Jepang, hanya memiliki kontribusi penjualan 1 persen di kelompok mobil listrik.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono melakukan tes drive Toyota Prus Plug-in hybrid – dok.Motoris

“Pemerintah tidak akan fokus mendorong pengembangan mobil listrik murni saja. Karena Indonesia kaya akan nikel dan kobalt sebagai bahan baku baterai mobil listrik yang cocok untuk plug-in hybrid,” kata Putu saat menjadi pembicara FGD ‘Senjakala Industri Komponen Otomotif dalam Menghadapi Era Mobil Listrik di Indonesia’

Itu sebabnya, Putu menyebut salah satu program awal yang didahulukan pemerintah dalam mengembangkan mobil listrik adalah meminta pelaku industri otomotif dan akademisi untuk melakukan riset sampai produksi komponen utama mobil listrik. Di mana kapabilitas untuk memproduksi baterai, motor, dan PCU menjadi target utamanya.

Ia yakin industri otomotif Indonesia mampu memproduksi komponen-komponen tersebut. Kemenperin pun membantu dengan mengusulkan sejumlah insentif bagi pabrikan yang serius memproduksi baterai dan motor mobil listrik dengan bahan baku yang ada di Indonesia. Mulai dari tax holiday, sampai superdeductable tax, dan penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil listrik. (Gen)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This