Calya – Sigra Bakal Kena Pajak 3%, Dinilai Masih Oke

Calya – Sigra Bakal Kena Pajak 3%, Dinilai Masih Oke
Toyota Calya versi baru yang fotonya banyak beredar di dunia maya - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Hari ini, Senin (16/9/2019), PT Toyota Astra Motor (TAM) dan PT Astra Daihatsu Motor (ADM) meluncurkan LCGC tujuh penumpang mereka yakni Toyota Calya dan Daihatsu Sigra versi penyegaran atau versi facelift. Seiring dengan kabar itu, informasi lama terkait rencana pemerintah untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang mengakibatkan LCGC tersebut dikenai tarif 3% kembali mencuat ke permukaan.

Pada pertengahan Agustus lalu di sela acara Toyota Fun/Code di Jakarta, Marketing Director PT TAM, Anton Jimmi Suwandy mengatakan, pihaknya akan mengikuti semua regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Apalagi, aturan itu bukan hanya ditujukan untuk Toyota semata, tetapi semua merek dan bukan hanya untuk LCGC tetapi juga untuk semua model dan kategori kelas mobil di Tanah Air.

“Memang, kabarnya – karena sampai saat ini peraturan tersebut elum terbit – kan acuan untuk penetapan tarif PPnBM itu bukan lagi besaran mesin dan jenis kendaraan, tetapi berdasar tingkat emisi. Nah, kalau melihat tingkat emisi LCGC yang ada sekarang, kemungkinan (besaran tarif untuk LCGC) kena 3%,” papar dia saat ditemui sebelum acara berlangsung.

Ilutrasi, Toypta Calya versi yang dipasarkan saat ini – dok.Motoris

Anton menyebut, sejak awal pihaknya  telah menekankan kepada konsumen bahwa harga LCGC Toyota sewaktu-waktu, seperyi halnya LCGC merek lain, pajaknya akan naik. “Kita berikan awareness seperti itu. Dan itu merupakan kebijakan pemerintah, dan sejauh ini ada kenaikan itu (tarif Bea Balik Nama) juga tidak masalah,” terang Anton.

Menurut dia, kendaraan LCGC masih akan dibutuhkan masyarakat Indonesia. Dengan harga yang terjangkau di tengah banyaknya konsumen yang merupakan kelompok pembeli pertama (first buyer mobil) kendaraa LCGC merupakan pilihan.

“Karena itu, kita upayakan tingkat kandungan lokal yang terus bertambah, karena ini akan berpengaruh juga ke harga,” ucap Anton.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Nasruddin Djoko Surjono saat ditemui akhir pekan lalu mengatakan, saat ini draft PPnBM sudah dalam tahap finalisasi.

“Sudah difinalisasi, karena ini kan selain membutuhkan persetujuan dari Kementerian Keuangan dan Keenterian Perndustrian, juga oleh Sekretariat Negara. Tetapi secara substansi tidak berubah seperti yang disampaikan oleh Ibu Menteri (Menteria Keuangan Sri Mulyani),” ucap dia.

Ilustrasi, Daihatsu Sigra yang merupakan kembaran dari Toyota Calya – dok.Motoris

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengungkapkan pendapatan senada dengan Anton. Menurut dia, dengan tingkat pendapatan masyarakat yang sebesar seperti sekarang ini (US$ 3.500) dan banyaknya pembeli pemula mobil, maka LCGC masih akan memiliki ceruk pasar yang besar.

“Jadi kalau ada pengenaan pajak (PPnBM 3%), membandingkannya jangan dengan sebelu terkena (PPnBM), tetapi dengan yang lain (mobil) lain, yang PPnBM-nya juga berubah, dan ungkin tambah tinggi kan? Kalau pasarnya, potensinya kan semakin besar, kalau ekonomi kita nanti juag terus membaik,” kata dia saat dihubungi, Jumat (13/9/2019) kemarin. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This