Bunga BI Kembali Dipangkas, Jualan Mobil Belum Tentu Ngegas

Bunga BI Kembali Dipangkas, Jualan Mobil Belum Tentu Ngegas
Ilustrasi, konsep Daihatsu Xenia Sport di GIIAS 2019 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Setelah pada Agustus lalu memangkas besaran bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) sehingga menjadi 5,5%, kini dalam rapat Dewan Gubernur 18 – 19 September kemarin, Bank Indonesia kembali mengereknya turun 25 bps lagi sehingga menjadi 5,25%. Namun, penurunan suku bunga kredit dinilai belum tentu menjadi penjualan otomotif khususnya mobil akan dengan serta merta melaju.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (ATM) Anton Jimmi Suwandy saat dihubungi Motoris belum lama ini mengaku berharap pemangkasan suku bunga acuan BI itu juga bakal berdampak ke penjualan mobil. Maklum, kata dia, sekitar 60-70% pembelian mobil dilakukan secara kredit.

“Harapannya seperti itu (mendongkrak penjualan). Dan kebijakan ini juga diikuti leasing companies (perusahaan-perusahaan pembiayaan). Tapi, mereka kan juga butuh waktu untuk penyesauaian, biasanya kan tiga bulan setelah ditetapkan baru ada penyesuaian,” tutur Anton.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. Menurut dia, ada berbagai hal yang dijadikan perusahaan pembiayaan sebagai pertimbangan untuk menaik-turunkan suku bunga, selain cost of fund atau biaya bunga.

Ilustrasi, Wuling Almaz varan 7 kursi di booth Wuling Motors di GIIAS 2019 – dok.Motoris

“Selain inflasi, tentu tingkat efisiensi operasional perusahaan juga menjadi pertimbangan. Dan soal efisiensi ini ada beberapa faktor, bisa internal maupun eksternal dari perusahaan. Jadi, artinya apakah BI Rate turun, suku bunga juga turun? Harapannya, memang seperti itu. Tapi di tingkat pelaksanaan ada beberapa pertimbangan,” ungkap dia saat dihubungi, di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menyebut, suku bunga kredit bukanlah satu-satunya faktor dasar keputusan orang untuk membeli mobil atau tidak. Pun di saat orang tersebut akan membelinya secara kredit sekali pun.

“Faktor kemampuan daya beli saya kira menjadi hal utama. Bisa saja bunga kredit menarik, tetapi kalau kemampuan daya belinya enggak ada, mau gimana. Tetapi, bukan berarti tidak ada potensi. Nah, ini tergantung kreatifitas atau inovasi teman-teman di industri (otomotif) bagaimana menyiasatinya. Biasanya kan akhir tahun ada program-program tertentu yang meringankan konsumen, dan bunga kredit yang ringan bisa dimanfaatkan,” ujar dia.

Ilustrasi, Mitsubishi Xpander di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Ekonomi melemah
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan kuartalan yang dirilis belum lama ini menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II lalu hanya sebesar 5,05%. Angka pertumbuhan ini lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang masih sebesar 5,07%.

Padahal, pertumbuhan ekonomi ini di bawah capaian di semester pertama 2018 yang sebesar 5,17%. Pertumbuhan ini banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

“Konsumsi rumah tangga di semester satu kemarin memang tumbuh 5%. Tetapi, kalau kita lihat kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan yang paling besar terjadi. Sedangkan kebutuhan di luar itu, termasuk beli kendaraan – mobil atau motor – sedikit terjadi, atau bahkan turun. Ya karena skala prioritas,” papar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira saat dihubungi, Kamis (19/9/2019).

Ilustrasi, Suzuki Baleno, salah satu mobil yang dipasarkan oleh PT Suzuki Indomobil Sales, termasuk di wilayah NTT- dok.Motoris

Menurut dia, daya beli rumah tangga masyarakat akan semakin tertekan jika rencana kebijakan pencabutan subsidi 900 VA, kenaikan iuran BPJS Kesehatan hingg 100%, dan pengurangan subsidi BBM dilakukan. “Imbasnya, daya beli untuk konsumsi yang di luar kebutuhan dasar juga akan tertekan. Apalagi, di saat sekarang imbas perang dagang di tingkat global juga berpengaruh ke ekonomi nasional kita,” ucap Bhima.

Sementara itu, data Gakindo menunjukan, di rentang Januari-Agustus kemarin penjualan mobil ambles 13,5% dibanding kurun waktu yang sama tahun lalu. Jika sebelumnya penjualan masih sebanyak 763.444 unit, tahun ini hanya 660.286 unit. (Fan/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This