Kondisi Ini yang Bikin Asean Bernafsu ke Era Kendaraan Listrik

Kondisi Ini yang Bikin Asean Bernafsu ke Era Kendaraan Listrik
Ilustrasi mobil listrik Wuling, E200 yang dipmaerkan di hajatan Indonesia Electric Motor Show 2019 beberapa waktu lalu - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of South East Asian Nation (Asean) disebut antusias memasuki era kendaraan listrik. Selain persoalan impor bahan bakar (BBM) fosil yang kian langka dan polusi lingkungan, tren pertambahan kendaraan yang tak bisa dibendung menjadi alasannya.

“Semua negara ASEAN sangat antusias untuk memasuki era kendaraan listrik. Car ownership ratio di wilayah ini lebih tinggi dibandingkan beberapa wilayah lain di dunia yang menyebabkan permasalahan kemacetan dan polusi udara,” tutur Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika, saat ditemui usai pembukaan Indonesia Modification Expo (IMX) 2019, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (28/9/2019) lalu.

Mengutip hasil riset Economic Research Institute for ASEAN and East Asia yang dilansir Juni lalu, Putu menyebut Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam akan mengalami pertumbuhan jumlah kendaraan 2,5 kali lipat pada tahun 2040. “Ini disebabkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi,” kata dia.

Akibatnya, kebutuhan energi utama yakni BBM juga terus meningkat saban tahunnya. Di Indonesia misalnya peningkatan permintaan BBM mencapai 3,2% per tahun, Vietnam 4,3%, Thailand 1,8%, dan Malaysia 2,3%.

Ilustrasi, konsep mobil hybrid yang dikembangkan Perodua – dok.Paultan.org

Pada sisi lain, cadangan BBM berbahan fosil terus menipis di dunia, akibatnya harga terus berada pada tren yang berpotensi naik. “Kebutuhan energi tersebut antara lain dapat terjawab dengan penggunaan dan pengembangan kendaraan berbasis listrik maupun kendaraan lain yang menggunakan bahan bakar non fosil,” imbuh Putu.

Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah menargetkan 20 persen dari produksi kendaraan Indonesia pada 2025 sudah bertenaga listrik. “Artinya, ketika produksi mencapai 2 juta unit per tahun, sebanyak 400 ribu itu kendaraan listrik,” kata dia.

Pemerintah Indonesia, lanjut Ketua Umum DPP Partai Golkar itu, terus mendorong upaya pengembangan kendaraan listrik. Sejumlah insentif tengah disiapkan untuk memcau langkah tersebut dengan berdasar Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang pengembangan kendaraan listrik.

Ilustrasi, PT Toyota Astra Motor gencar melakukan edukasi kepada masyarakat soal mobil hybrid. Di hajatan GIIAS 2019, Toyota menyuguhkan sedan Prius hybrid yang dibelah sebagai sarana edukasi – dok.Motoris

Thailand memimpin
Beberapa waktu lalu, sebuah laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) menyebut, saat ini sebagian besar negara di kawasan Asean tengah menyiapkan regulasi dan infrastruktur menuju era kendaraan listrik. Jika semuanya telah beres, pada tahun 2025 nanti, poluasi kendaraan roda dua bermotor listrik di kawasan ini diprkirakan mencapai 59 juta unit.

Sedangkan di saat yang sama, jumlah kendaraan roda empat bermotor listrik listrik mencaai 8,9 juta unit. “Pemberian insentif bagi pembeli dan industri pembuat kendaraan listrik menjadi kunci (perkembangan kendaraan listrik) di kawasan ini,” bunyi laporan tersebut.

Laman Nikkei Asian Review beberapa waktu lalu melaporkan, di kawasan Asean, Thailand menjadi pemimpin atau yang mengawali kebijakan pengembangan kendaraan listrik. Negeri Gajah Putih ini disebut memberikan sejumlah insentif kepada investor dan pengembang kendaran listrik.

Ilustrasi, pekerja di industri mobil Thailand – dok.Chiangrai Times

“Negara ini sejak 2017 membebaskan pajak penghasilan perusahaan selama delapan tahun kepada investor yang merakit kendaraan listrik jenis kendaraan listrik berbasis baterai dan tiga tahun untuk investor produsen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di domestik (Thailand),” .sebutnya. (Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This