Ingin Beli Mobil Hybrid? Ini Tarif PPnBM-nya

Ingin Beli Mobil Hybrid? Ini Tarif PPnBM-nya
Toyota C-HR hybrid - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Kendaraan Bermotor, pada 15 Oktober lalu. Besaran tarif yang diatur dalam belid itu bukan hanya untuk kendaraan bermotor dengan mesin konvensional, tetapi juga mobil terelektrifikasi mulai hybrid hingga plug-in hybrid.

Secara garis besr, aturan ini menyebut tarif pemajakan dalm skema PPnBM kendaraan full hybrid sebesar 15%. Tetapi, untuk tarif finalnya, tarif sebesar itu dikalikan dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) dari harga jual masing-masing jenis kendaraan – yang tentu berbeda-beda – sesuai dengan tingat konsumsi bahan bakar (BBM) serta emisi gas CO2 yang dihasilkan.

Beleid yang mulai berlaku efektif 16 Oktober 2021 atau dua tahun setelah diundangkan itu memberi pedoman tentang pemajakan mobil full hybrid dan mild hybrid. Masing-masing jenis kendaraan yang tarif pemajakannya adalah kendaraan dengan mesin konvensional – hybrid merupakan paduan antara mesin konvensional dengan motor listrik – berkapasitas hingga 3.000 cc dan 3.000 – 4.000 cc.

All New Ertiga Mild Hybrid, model pertama Suzuki Indonesia dalam melangkah ke era mobil listrik di Tanah Air – dok.PT SIS

Untuk mobil full hybrid dengan mesin konvensional hingga 3.000 cc tarif dasar PPnBM-nya 15% dan DPP 13,3%. Alhasil, tarif final PPnBM yang dikenakan besarannya hasil dari 15% x 13,3%.

Begitu pula dengan jenis-jenis kendaraan hybrid lainnya dengan kadar emisi yang dihasilkan. Misalnya, full hybrid dan mild hybrid bermesin 3.000-4.000 cc dengan tingkat konsumsi BBM 1:18,4-23 km serta emisi CO2 sebanyak 100-125 gram/km dikenai tarif dasar PPnBM 15%.

Begitu pula dengan kendaraan hybrid bermesin diesel dengan kubikasi isi silinder yang sama dengan konsumsi BBM 1:20-26 km atau CO2 100-125 gram/km, dikenai tarif dasar PPnBM 15%, dengan DPP dari harga jual 33,3%, sehingga tarif finalnya 15% x 33,3%.

Sementara untuk kendaraan mild hybrid dengan mesin konvensional bensin hingga 3.000 cc dengan konsumsi BBM 1:23 km atau emisi gas CO2 kurang dari 100 gram/km, atau bermesin diesel dengan konsumsi BBM 1:26 km serta emisi CO2 kurang dari 100 gram/km, dikenai tarif dasar PPnBM 15% dan DPP dari harga jual 53,3%. Sehingga tarif finalnya 15% x 53,3%.

Ilustrasi, konsep MPV hybrid Daihatsu yang diperkenalkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Sedangkan bagi kendaraan dengan mesin berkubikasi sama, yang konsumsi BBM-nya 1: 18,4-23 km dengan emsi CO2 100 – 125 gram/km, dikenai tarif 15% dengan DPP dari harga jual 66,6%. Sehingga tarif finalnya 15% x 66,6%.

Mesin 3.000 – 4.000 cc
Jika kapasitas mesin kendaraan 3.000 – 4.000 cc diusung mobil full hybrid dan mild hybrid konsumsinya 1:23 km lebih dan mesin diesel dengan kapasitas yang sama 1: 26 km dengan emisi CO2 kurang dari 100 gram/km, maka tarif dasar PPnBM-nya 20%. Jika konumsi BBM-nya 1:18,4 – 23 km (ensin) dan 1:26 km lebih, dengan emisi gas buang 100 -125 gram/km maka tarf dasar PPnBM-nya 20%.

Untuk full hybrid bermesin dengan kapasitas yang sama tetapi konsumsi BBM-nya 1: 15,5 – 18,4 km, dengan emisi 125 – 150 gram/km dan diesel dengan konsumi BBM 1:17,5 – 20 km serta emisi 125 – 150 gram/km, dikenai tarif if dasar PPnBM sebesar 30%.

Mobil Plug-in Hybrid, Mitsubishi Outlander PHEV diluncurkan secara resmi di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Adapun untuk kendaraan jenis plug-in hybrid – apapun jenis mesin yang disandangnya baik bensin maupun diesel – jika konsumsi BBM-nya 1:28 km dengan emisi CO2 maksimal 100 gram/km akan dikenai tarif dasar PPnBM sebesar 15%. Besaran DPP dari harga jual kendaraan ini ditetapkan 0%. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This