Penjualan Bus Ambles 18%, Ini Penyebabnya

Penjualan Bus Ambles 18%, Ini Penyebabnya
Chassis bus Hino dalam balutan karoseri garapan Tentrem - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, atau dari Januari – September lalu, penjualan chassis bus (bus) di Indonesia tercatat sebanyak 2.209 unit. Jumlah ini ambles 18% dibanding rentang waktu yang sama pada tahun lalu.

Ada banyak versi alasan yang diungkapkan pejabat Agen Pemegang Merek (APM) dan pelaku usaha jasa angkutan bus. Salah satunya adalah faktor politik.

“Ini kan permasalahannya (penurunan terbanyak) terjadi di semester pertama, karena mulai dar persiapan Pemilu (pemilihan umum), kemudian pemilihan presiden dan wakil presiden, itu (faktor politik), sagat berpengaruh. Orang wait and see (menunda pembelian karena melihat situasi dan kondisi apa yang akan terjadi),” papar Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Moto Sales Indonesia, Santiko Wardoyo kepada Motoris melalui pesa elektronik, Kamis (31/10/2019) malam.

Terlebih, di saat yang sama gejolak perang dagang antara Amerika Setikat dan Cina, telah berdampak pada perekonomian nasional. Alhasil, recana ekspansi pengusaha melalui pembelian unit baru juga ditunda.

Bus Hino dengan bidi garapan karoseri Laksana di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Berbeda dengan Santiko, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menyebut faktor politik dan perang dagang memang berpengaruh. Namun, lanjut dia, faktor lain yang cukup berdampak terhadap pembelian chassis bus adalah langkah switching atau perubahan pilihan jenis atau model chassis bus.

“Sekarang ini, teman-teman pelaku uaha angkutan bus itu mulai beralih ke bus dengan mesin yang berkapasitas lebih besar, 6.000 cc ke atas. Ini disesuaikan dengan perubahan pola operasional armada terkait dengan perubahan infstruktur terutama jalan tol yang semakin membaik, yakni toll to toll,” papar Lesani kepada Motoris, Kamis (31/10/2019).

Bus Scania dalam balutan bodi karoseri Laksana dipmaerkan di GIIAS 2018 – dok.Motoris

Bus Eropa disuka
Pengubahan pola operasional armada bus itu dilakukan para engusaha karena untuk melakukan reformulasi bisnis, agar bus kembali menjadi primadona moda rabsportasi di mata masyarakat. Tarif yang murah, nyaman, aman, sekaligus fleksibel karena bisa berhenti di dekat dengan wilayah tempat tinggal penumpang, menjadi keunggulan yang ditawarkan.

“Kami pelaku usaha angkutan bus, terus berbenah diri agar bisa besaing dengan layanan kereta api dan pesawat berbiaya murah. Karena itulah, kami harus beroperasi yang tidak banyak berhnti dalam perjalanan. Dan itu didukung oleh infrastruktur jalan tol yang terus menyambung (di Jawa dan sebagian Sumatera),” ungkap Lesani.

Lantaran beroperasi tanpa banyak henti itulah dibutuhkan bus dengan mesin berkapasitas besar. Sebab, jika tidak, mesin akan jebol. Sebab, kapasitas mesin ini berkaitan dengan lifetime mesin ketika digeber terus menerus. Kalau bus dengan mesin kecil bakal jebol di tengah jalan.

Ilustrasi, hassis bus Mercedes-Benz dengan bodi karoseri Tentrem – dok.Motoris

“Ini sudah beberapa kali dialami teman-teman yang mencoba seperti itu., bok mesin jebol di saat bus sedang berjalan. Bisa berbahaya bagi keselamatan dan menimbulkan kergian,” ucap pria yang juga Direktur Utama PO Putera Mulya Sejahtera itu.

Karena bus-bus keluaran pabrikan Jepang banyak yang belum menyajikan chassis dengan kapasitas mesin besar, maka pengusaha bus banyak beralih ke bus-bus besutan produsen asal Eropa seperti Mercedes-Benz, Scania, atau Volvo. Hanya sayang, jumlah unit yang digelontorkan ke Indonesia tak sebanyak bus buatan Jepang.

“Tetapi yang pasti, bus asal Eropa itu meningkat kok permintaannya di tiga kuartal (Januari – September) kemarin. Mungkin karena stoknya tidak sebanyak bus Jepang. Jadi karena ada switching ke bus Eropa itu, penjualan bus Jepang turun,” imbuh pria yang akrab disapa dengan Sani itu. (Ara)

Bus Mercedes-Benzr – dok.Motoris

CATEGORIES
TAGS
Share This