Penggunaan B30 Dimulai, Pengusaha Rogoh Biaya Ekstra

Penggunaan B30 Dimulai, Pengusaha Rogoh Biaya Ekstra
Pengumuman dimulainya penjualan BBM B30 di sebuah SPBU di Jalan Maulana Hasanudin, Cipondoh, Tangerang - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Meski direncanakan pemerintah jadwal penerapannya di masyarakat dimulai Januari 2020 mendatang, namun ternyata distribusi bahan bakar minyak (BBM) solar dengan kandungan fatty acid methyl ester (FAME) 30% sudah didistribusikan atau bahkan dijual sejak November lalu. Sementara, kalangan pelaku usaha angkutan – baik bus maupun truk – mengaku harus siap-siap mengeluarkan biaya ekstra.

“Kalau untuk bus, kami harus mengeluarkan biasa ekstra 15-20% dari biaya operasi selama ini. Ini dikarenakan harus sering berganti filter bahan bakr. Selain itu, tangki bahan bakar harus di-coating,” ungkap Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi) Kurnia Lesani Adnan, saat dihubungi Motoris, Rabu (14/12/2019).

Pemberian lapisan coating itu diperlukan, karena sifat BBM ini mengikat air atau H2O yang cukup tinggi. Sehingga, menjadikan tangki rawan terkena korosi atau berkarat. Pada sisi lain, BBM itu juga bersifat deterjensi yang membersihkan tangki. Alhasil, karat-karat yang terjadi juga dibersihkan dan rawan terbawa masuk ke ke mesin.

“Kalau itu terjadi kan bahaya. Jadi selain harus sering berganti filter dari biasanya tiga kali menjadi 5 – 6 kali dalam jarak tempuh 60.000 kilometer,” ujar Lesani.

Ilustrasi, armada bus milik PO SAN – dok.PO SAN

Pernyataan senada diungkapkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kurnia Lesani Adnan. Menurut dia, jika saat ini harga sebuah filter Rp 90.000, maka jika sebelum menggunakan BBM B30 biaya ganti perangkat itu hanya Rp 270.000 setiap jarak 60.000 kilometer, kini setidaknya harus Rp 540.000 untuk jarak tempuh yang sama.

“Tetapi yang tidak kalah beratnya, itu truk-truk unit lama, atau tahun 2005 dan sebelumnya. Ini harus dipasang water separator untuk memisahkan kandungan air yang ada di BBM itu. Kalau tidak, air masuk ke mesin, mesin jadi rusak,” kata dia saat dihubungi Motoris, Rabu (4/12/2019).

Ilustrasi, dispenser BBM di sebuah SPBU – dok.Motoris

Laba berkurang
Seperti halnya Lesani, Kyatmaja menyebut dengan adanya tambahan biaya itu tentu akan mengurangi laba yang diperoleh perusahaan. Maklum, meski pendapatan bisa saja tak berkurang, namun komponen biaya produksi membengkak.

“Padahal, kita juga tidak bisa membebankan biaya tambahan itu ke konsumen pengguna jasa angkutan kita. Apalagi, di tengah persaingan yang semakin ketat seperti sekarang (baik dengan sesama anggota Aptrindo maupun perusahaan di luar asosiasi itu), menaikan tarif secara tiba-tiba bisa menjadi petaka,” ungkap bos PT Lookman Djaja Group itu.

Harga sebuah water separator mencapai Rp 5 juta. Padahal, saat ini truk-truk yang dimiliki pengusaha, kebanyakan truk usia tua.

“Jadi, kalau di perusahaan itu ada 10 saja yang berusia tua, maka setidaknya harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 50 juta untuk water separator saja,” ucap Kyatmaja.

Ilustrasi, armada truk milik Pura Trans – dok.Istimewa

Kendati begitu, baik Kyatmaja maupun Lesani, mengaku tetap akan mematuhi ketentuan dan program yang dicanangkan oleh pemerintah tersebut. Terlebih, kebijakan ini dimaksudkan untuk smemberdayakan industri kelapa sawit di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

Sebelumnya, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengakui pihaknya telah melakukan percepatan distribusi BBM B30 ke jarinan SPBU di Tanah Air. Tujuannya, ketika jadwal penggunaan BBM itu tiba, maka ketersediaan BBM itu di masyarakat sudah lebih dari cukup, sehingga tidak ada alasan terjadi kelangkaan.

“Percepatan implementasi B30 akan membawa perubahan positif ke berbagai sektor. Baik dari sisi kemandirian energi nasional hingga multiplier effect terhadap sektor perkebunan dan dampak lingkungan,” ujar dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS