Banyak Bus Pariwisata Celaka, Jangan Cuma Lihat Tarif

Banyak Bus Pariwisata Celaka, Jangan Cuma Lihat Tarif
Bus Pariwisata Purnama Sari yang mengalami kecelakaan di Ciater, Subang, Jawa Barat - dok.Jasa Raharja

Jakarta, Motoris – Kasus kecelakaan bus pariwisata Purnama Sari di Ciater, Subang, Jawa Barat, 8 Januari lalu yang merenggut 8 nyawa, hingga kini pengusutannya belum benar-benar tuntas, sehingga masih menyisakan teka-teki. Kendati begitu sejumlah indikasi berdasar penelusuran histori bus tersebut, membawa kita pada sebuah pesan “harus cermat memilih bus pariwisata yang hendak kita sewa”.

“Intinya, kita harus cermat melihat riwayat bus yang akan kita sewa dengan cermat. Lihat di STNK bus yang bersangkutan, bus tersebut umurnya sudah berapa tahun. Sebab, batas maksimal usia atau life cycle bus pariwisata itu 15 tahun, jika sudah menginjak usia itu atau bahkan lebih sebaiknya dihindari. Jangan tergiur tarif sewa yang murah dan melihat tampilan bus, sebaiknya masyarakat cermat,” ungkap Kepala Subdirektorat Angkutan Multimoda dan Antarmoda Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Ahmad Wahyudi, saat dihubungi Motoris, Rabu (22/1/2020).

Menurut Wahyudi, dari hasil investigasi pihaknya ditemukan sejumlah indikasi, bahwa bus pariwisata Purnamasari bernomor polisi E 7508 W itu ada modifikasi yang tidak semestinya. Chassis bus yang bersangkutan merupakan chassis lama dengan bodi yang diperbarui atau dikaroseri ulang.

Bus Purnama Sari yang kecelakaan di Ciater, Subang, Jawa Barat – dok.Kompas.com

“Modifikasi itu terlihat dari penggantian selang gas kompressor yang seharusnya stainless steel telah diganti selang biasa non metal. Karena bahannya yang bukan metal, maka ketika terkena panas menguap, akibatnya tekanan gas dari kompressor tidak terjadi, atau terjadi tetapi minim. Akibatnya, rem blong,” papar dia.

Selain itu, bus yang mengangkut wisatan dari obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu ke Depok itu, setelah diteliti ternyata juga tidak terdaftar di Sistem Perijinan Online Angkutan dan Multimoda (Spionam). “Ada beberapa kemungkinan jika tidak terdaftar di Spionam. Pertama, masa berlakuknya telah habis dan tidak didaftar lagi, karena berganti kepemilikan. Kedua, karena usia pakai yang semestinya tidak terlewati,” terang Wahyudi.

Namun, bus Purnama Sari hanyalah salah satu dari sekian bus pariwisata yang bernasib naas karena celaka.  Artinya, kata Wahyudi, jika mengambil kesimpulan perlunya kecermatan dalam memilih bus yang akan disewa dengan melihat kelayakannya sangatlah beralasan.

“Faktor rem blong juga menjadi faktor penyebab terbanyak. Artinya, dari faktor kelayakan teknis juga rawan. Sehingga perlu kecermatan saat akan menyewa bus-bus pariwisata,” ucap dia.

Ilustrasi, kecelakaan yang melibatkan bus pariwisata- dok.Istimewa

Perizinan dipertanyakan
Hasil penelusuran yang dilakukan Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) menunjukan hasil yang serupa dengan apa yang dikatakan Wahyudi. Seperti diungkapkan Ketua Umum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan, bus Purnamasari sebelumnya adalah bus milik sebuah Perusahaan Otobus (PO) di daerah Cirebon dengan izin untuk angkutan pariwisata.

Bus ini, kata Lesani, kemudian dibeli oleh orang dan diganti namanya menjadi Purnama Sari yang juga digunakan sebagai angkutan Pariwisata. “Bus yang kecelakaan itu namanya tidak terdaftar di Spionam. Tetapi yang menarik adalah, bus Purnama Sari ini belum ada izin, tetapi bisa keluar nomor polisi pelat kuning. Karena itu, sekali lagi, pengawasan oleh pihak berwenang harus tegas dan transparan,” ucap dia saat dihubungi Motoris, Rabu (22/1/2020).

Pria yang juga Direktur Utama PO SAN Putera Sejahtera itu tak menampik jika bus Purnama Sari itu dilakukan modifikasi tampilan alias facelift sebagai cara untuk memenuhi tuntutan pasar. “Menurut saya sah-sah saja kalau facelift karena pasar menuntut model kekinian. Namun, mungkin ada beberapa hal teknis yang tidak sempurna. Dan, tentu ini dibutuhkan pengawasan,” ujar Lesani.

Bus paristiwa mengalami kecelakaan di Ciater, Subang – dok.KompasTV

Sementara, Ahmad Wahyudi mengakui pengawasan bus-bus yang tidak layak banyak menghadapi kesulitan. Karena bus yang ada di lapangan tidak mudah membedakan bus lama dengan yang baru berdasar tampilan.

“Karena itu, sikap proaktif masyarakat sebagai pengguna sangat diperlukan, Teliti surat-surat bus, jika sudah melebihi batas usia, dan historinya kurang baik sebaiknya dihindari. Jangan hanya tergiur tarif murah dan tampilan,” tegas dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This