Musim Hujan Pakai B30, Biaya Operasi Bus Makin Tinggi

Musim Hujan Pakai B30, Biaya Operasi Bus Makin Tinggi
Ilustrasi, bus Voyager berbasis chassis Volvo B11R milik PO Gunung Harta yang melayani trayek Bogor - Jakarta - Malang dengan keberangkatan pagi hari - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Sifat biosolar – tak terkecuali biosolar 30 atau B30 – yang bersifat membentuk gel terutama ketika cuaca dingin seperti hujan membuat biaya operasi angkutan bus membengkak. Supir atau awak bus milik Perusahaan Otobus (PO) harus sering menambahkan cairan aditif agar bahan bakar tak cepat menghasilkan gel.

Seperti diungkapkan Direktur Perusahaan Otobus (PO) Scorpion Holidays, Firman Fathul Rochman kepada Motoris, Minggu (2/2/2020), nilai biaya estra itu terbilang lumayan. “Karena salah satu karakter biosolar itu, termasuk yang B30, adalah kandungan FAME (ester metil asam lemak minyak nabati atau fatty acid methyl ester/FAME) yang membeku atau menjadi gel. Apalagi kalau terkena cuaca dingin. Sehingga dibutuhkan cairan aditif, apalagi musim hujan seperti sekarang,” ujar dia.

Jika gel tersebut banyak bersarang di filter bahan bakar bus, kata Firman, maka kendaraan yang bersangkutan tenaganya akan menjadi lemot alias ngempos. Laju bus pun  tak akan segalak seperti yang diharapkan. Alhasil, banyak waktu yang terbuang di jalan.

“Padahal, dalam bisnis angkutan faktor waktu itu sangat penting. Karena itu, untuk menyisiasatinya, supir atau awak bus harus sering-sering menambahkan cairan aditif ketika bus mengisi bahan bakar. Ini di luar harus sering ganti filter. Artinya, ongkos operasi sekarang bertambah, ya sekitar naik 20% ya, kalau sama penggantian filter,” terang pria yang akrab disapa dengan Enyon itu.

Direktur PO Scorpion Holidays, Firman Fathkul Rochman di depan salah satu armada bus miliknya yang ber-chassis Mercedes-Benz – dok.Motoris

Pernyataan senada diungkapkan Direktur Utama PO Gunung Harta – PO asal Denpasar, Bali – I Gede Yoyok Santoso, saat dihubungi Motoris, Minggu (2/2/2020). “Kami mempunyai 61 unit armada bus, dan membutuhkan aditif AdBlue yang ditambahkan ke bahan bakar (B30) supaya tidak cepat membentuk gel di filter. Dalam cuaca biasa atau kering, biaya untuk beli filter ini Rp 20 juta, tetapi karena hujan yang turun tidak menentu dan intensitasnya tambah tinggi di bulan-bulan terakhir ini, boaya itu makin bertambah jadi Rp 25 jutaan lah,” kata dia.

Biaya ekstra yang nilainya lumayan itu harus dikeluarkan para pengusaha bus, terutama mereka yang memiliki armada bus buatan pabrikan Eropa. Sebab, bus-bus buatan negara-negara di benua itu, sudah mengadopsi teknologi berstandar emisi Euro 4 ke atas.

“Sedangkan bioslar dengan kandungan nabati itu kan sebenarnya tidak kompatibel dengan teknologi berstandar Euo tinggi. Ya mulai Euro 4 hingga 6 yang ada saat ini. Jadi, ya kita harus mengakalinya. Karena kan kita juga ingin mendukung kebijakan pemerintah,” ucap Yoyok.

Ilustrasi, chassis bus Scania K410 baru milik PO SAN – dok.Istimewa

Hanya B7
Pernyataan Yoyok diamini Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan. Dia menyebut, bus-bus besutan pabrikan Eropa memang dirancang tak mengonsumsi biosolar dengan kandungan minyak nabati yang tinggi.

“Setahu saya dan informasi dari pabrikan yang saya terima, untuk bus yang berstandar Euro 6, itu hanya bisa mengonsumsi biosolar dengan kandungan minyak nabati 7%, atau B7. Jadi ketika, tahun kemarin ada mandatori B20 teman-teman langsung melakukan ubahan di armada mereka atau melakukan penyiasatan,” ungkap dia.

Selain harus sering ganti filter – yakni jika sebelumnya hanya tiga kali dalam sekali jalan hingga jarak 60.000 kilometer, kini haris berganti 5 – 6 kali. Selain itu, tangki bahan bakar juga harus di-coating.

“Karena sifat BBM biosolar itu kan mengikat air atau H2O. Kalau kandungan air tinggi maka tangki rawan berkorosi atau berkarat. Selain itu biosolar juga bersifat deterjensi yang membersihkan tangki, sehingga karat-karat ada dibersihkan dan rawan terbawa masuk ke mesin,” ujar pria yang juga Direktur Utama PO SAN itu.

Direktur Utama PO SAN, Kurnia Lesani Adnan – dok.Istimewa

Sehingga, jika dihitung-hitung pengusaha bus harus merogoh kocek untuk tambahan biaya operasional 15-20%. Terlebih jika di saat cuaca dingin seperti hujan yang mengguyur saban hari.

“Tetapi kita tegaskan, bahwa kami mendukung kebijakan pemerintah terutama bagiamana mendayagunakan produk sawit kita. Tetapi, juga harus dicari bagaimana menciptakan teknologi yang bisa menjadikan kualitas biosolar itu semakin tinggi sehingga, muncul gel dan sebagianya itu bisa diredusir,” imbuh dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS