IA-CEPA Resmi Diratifikasi, Ekspor Mobil RI ke Australia Mengalir?

IA-CEPA Resmi Diratifikasi, Ekspor Mobil RI ke Australia Mengalir?
Ilustrasi, Toyota Innova yang diekspor TMMIN-dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Indonesia dan Australia, sejak Minggu (9/2/2020) – Senin (10/2/2020) kemarin resmi membahas tindak lanjut ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sebagai bagian dari kemitraan strategis komprehensif kedua negara untuk 2020-2024. Dengan kerjasama ini, produk tekstil dan otomotif Indonesia diharapkan bisa diekspor ke Australia karena ada kemudahan berkat kerjasama itu.

“Dengan adanya IA-CEPA ini, bea masuknya akan diturunkan rata-rata dari 5% menjadi 0%. Itu yang akan bisa didorong, satu (produk) tekstil dan kedua, otomotif,” papar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi, Senin (10/2/2020).

Menurut mantan Menteri Perindustrian ini, permintaan produk otomotif Australia saban tahun mencapai US$ 1,1 miliar. Model-model yang diminati pasar Negeri Kanguru itu adalah Sport Utility Vehicle (SUV) dan pikap (double cabin).

“Indonesia ini sendiri mempunyai kapasitas. Tinggal kita bicara dengan produsen-produsen yang di Indonesia sedang di dalam proses supaya bagaimana kita bisa mempercepat tidak hanya yang tercantum di dalam IA-CEPA saja. Kan lebih utamanya kepada (kendaraan berteknologi) hybrid dan electric vehicle (kendaraan listrik),” ujar Airlangga.

Untuk saat ini, lanjut dia, pemerintah tetap mendorong industri Indonesia untuk mengekspor mobil dengan mesin pembakaran internal atau mobil konvensional. Pasalnya, kendaraan listrik baru mulai diproduksi di Indonesia (oleh Hyundai Motors Company yang telah berinvestasi) pada tahun 2021 nanti.

Ilustrasi proses produksi mobil Toyota – dok.Motors.mega.au

Sebelumnya, Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Yoyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan hingga saat ini belum ada produk Toyota Indonesia yang diekspor ke negara tersebut. “Kalau penjajakan kita sudah sering lakukan. Tetapi, untuk ekspor kan kita harus melihat seperti apa kebutuhan dari konsumen di sana. Spesifikasinya, dan sebagainya,” kata dia.

Pernyataan Bob, senada dengan apa yang diungkapkan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono yang jauh sebelumnya ditemui usai menerima penghargaan Primaniyarta 2019 dari pemerintah di sela acara Indonesia Trade Expo, di ICE, Serpong, Tangerang, Rabu (16/10/2019).

Menurut dia, masih banyak tantangan yang harus dijawab oleh industri asal Indonesia untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar Australia. Termasuk permintaan fitur kendaraan dan standar produk yang ditetapkan oleh pemeruntah maupun masyarakat setempat. “Jadi kita masih butuh waktu lah ke sana (Australia),” ujarnya.

Airlangga menyebut, pada Minggu (9/2/2020) kemarin dia bertemu dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham di Canberra. Sementara, Presiden Joko Widodo melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Scott Morrison. Pertemuan-pertemuan itu salah satunya membahasa tindak lanjut ratifikasi IA-CEPA.

Presiden Jokowi melakukan Pertemuan Bilateral di Parliament House Canberra – dok.Setkab

Tak serta merta
Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menyebut IA-CEPA merupakan kerangka yang di dalamnya terdapat instrumen perdagangan, untuk memberi kemudahan. Namun, hal itu bukan serta merta menjadi jaminan bahwa produk yang diekspor Indonesia ke Australia atau sebaliknya bakal dijamin berlangsung dengan mulus.

Sebab, kata dia, dalam perdagangan pihak utama yang menentukan laku tidaknya barang adalah konsumen. Sementaram bicara soal otomotif , Australia memiliki persyaratan dan ketentuan yang lebih ketat.

“Negara ini memiliki Australian NCAP. Aturan di sana sangat rigid (ketat). Dan satu hal lagi, kalau pun industri Indonesia bisa memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku di negara itu, apakah akan dengan serta merta bisa mengekspornya langsung? Kan ini juga menyangkut strategi yang dilakukan prinsipalnya. Terutama, dalam penataan basis produksi di suatu negara dengan orientasi distribusi atau pemasarannya, apakah hanya dijual di pasar domestik atau juga untuk ekspor, ” kata peraih gelar doktor dari Universitas Queensland Australia itu saat dihubungi, Senin (10/2/2020).

Toyota Hilux versi terbaru. Australia juga megimpor kendaraan ini dari Thailand – dok.Istimewa

Pernyataan senada diungkapkan Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto. Dia berharap kalangan industri segera berembuk dengan para prinsipalnya untuk melakukan ekspor ke Australia dari Indonesia.

“Sebab, secara geografis, Indonesia lebih dekat dengan Australia. Selain itu, sumberdaya manusia di industri yang ada di Indonesia juga mampu memproduksi kendaraan yang berorientasi ekspor. Ini tentu menjadi peluang besar, apalagi kebutuhan Australia itu 1 juta unit (mobil) per tahunnya. Negara ini enggak punya industri, jadi semua dari impor,” ucap dia. (Fan/Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS