BNEF: 2020, Penjualan Mobil Listrik Tak Separah Mobil Konvensional

BNEF: 2020, Penjualan Mobil Listrik Tak Separah Mobil Konvensional
Ilustrasi, mobil listrik VW ID.3 saat diluncurkan - dok.Reuters

New York, Motoris – Lembaga riset milik Bloomberg LP – yakni Bloomberg New Ernergy Finance (BNEF) – memprediksi, akibat wabah virus corona yang menghajar ekonomi hampir semua negara di dunia, telah dan akan berdampak ke penjualan mobil, baik yang berteknologi konvensional maupun berbasis baterai listrik. Namun, meski sama-sama ambrol, namun ambrolnya penjualan mobil listrik tak separah mobil konvesional.

Laporan BNEF yang dilansir laman Green Car Congress, belum lama ini, menyebut hingga akhir tahun 2020 penjualan mobil listrik diprediksi mencapai 1,7 juta unit. Jumlah ini ambles 18% dibanding penjualan sepanjang tahun 2019 lalu.

“Namun, penjualan mobil mesin pembakaran akan turun lebih dalam yakni sebesar 23%. Bahkan penjualan kendaraan terelektrifikasi dalam jangka panjang diproyeksikan akan meningkat di tahun-tahun mendatang,” bunyi pernyataan lembaga itu.

Hasil riset menunjukan kendaraan listrik akan menyumbang 58% dari total penjualan mobil penumpang baru di pasar global pada tahun 2040 nanti. Sedangkan di pasar kendaraan secara keseluruhan – baik penumpang maupun komersial – porsi penjualan kendaraan listrik mencapai 31%.

Mobil Listrik Mazda MX-30 – dok.Istimewa

“Kendaraan listrik bakal membentuk 67% dari seluruh angkutan bus kota di dunia pada tahun tersebut. Sedangkan kendaraan listrik roda dua porsinya mencapai 47% dari seluruh kendaraan roda dua pada tahun tersebut. Sementara, 24% kendaraan komersial ringan di tahun yang sama merupakan kendaraan listrik,” papar Head of advanced transport BNEF, Colin McKerracher.

Sebelumnya, kantor berita Reuters  menyebut European Automobile Manufacturers’ Association (ACEA).melaporkan sepanjang Januari – Maret atau kuartal pertama tahun ini, penjualan mobil listrik di negara-negara Uni Eropa, Inggris, dan European Free Trade Association (EFTA) tercatat sebanyak 130.297 unit. Jumlah masih naik 20% lebih dibanding periode sama tahun lalu.

Meski, jumlah tersebut masih terbilang kecil dibanding jumlah penjualan mobil konvensional, ACEA menyebut selama tiga bulan pertama itu total penjualan mobil di wilayah tersebut sebanyak 3.054.703 unit atau turun 52,9% dibanding kuartal pertama 2019.

Seorang pria di Cili yang mengecas bus listrik buatan BYD , pabrikan asal Cina – dok.Reuters

Dari jumlah itu 52% merupakan mobil bermesin bensin dan 28% bermesin diesel. Sedangkan sisanya merupakan mobil listrik.

Masih diwartakan Reuters, di Cina, Asosiasi Mobil Penumpang Cina (CPCA) menyebut sepanjang Maret lalu – ketika total penjualan mobil di  negara itu ambrol 40,8% – mobil listrik Tesla tercatat sebanyak 10.160 unit. Penjualan tersebut merupakan yang tertinggi yang dibukukan Tesla di Negeri Panda tersebut.

Sedangkan pada Feruari mobil buatan Tesla Inc itu terjual 3.900 unit, dan Januari 2.620 unit. Artinya, tren penjualannya terus naik di rentang tiga bulan.

Ilustrasi, Tesla Model 5 di Cina – dok.The Detroit Bureau

Meski, di bulan keempat atau April ambrol. Pada bulan ini, penjualan Tesla di Cina hanya sebanyak 3.635 unit atau ambrol 64% karena diterjang wabah virus corona. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This