Jasa Marga dan Polisi Buru Pesepeda yang Masuk Tol Jagorawi

Jasa Marga dan Polisi Buru Pesepeda yang Masuk Tol Jagorawi
Pesepeda yang masuk ruas tol Jagorawi KM 46+500 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – PT Jasa Marga (Persero) dan Kepolisian saat ini sedang memburu oknum pesepeda yang masuk ke ruas Tol Jagorawi KM 46+500 (Polingga) pada pukul 11.00 Siang, Minggu (13/9/2020) kemarin. Mereka dsebut jelas-jelas melanggar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 88 Tahun 2009 tentang perubahan atas PP Noor 15 Tahun 2005 khususnya Pasal 38 Ayat1.

“Jasa Marga bersama kepolisian tengah menyelidiki dan mencari oknum pesepeda yang memasuk jalan tol tersebut,” ujar Marketing and Communication Department Head PT Jasamarga, Irra Susiyanti, dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Minggu (13/9/2020).

Sementara, Kepala Induk Patroli Jalan Raya Tol Jagorawi, Kompol Kamila, yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan melihat rekaman kamera CCTV yang terpasang di sekitar area peristiwa. “Kami akan melihat rekaman CCTV-nya dulu. Kami berkoordinasi dengan Jasa Marga, karena yang bisa membuka rekaman itu dari pihak Jasa Marga,” ujar dia.

Seperti halnya, Irra, Kamila juga menyatakan jika kasus itu benar-benar teradi, maka oknum pesepeda tersebut telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku. Tentu , kata Kamila, bersepeda di jalan tol sangat berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ilustrasi, pesepeda road bike di sebuah jalan bebas hambatan – dok.Toronto Star

Pernyataan serupa disampaikan pengamat trnasportasi dari Universitas Katolik Soegija Pranata, Semarang, Djoko Setijowarno. Menurutnya, secara teknis jalan tol dirancang untuk dilalui oleh kendaraan bermotor roda empat.

“Batas kecepatan minimal dan maksimum kendaraan yang melaju di jalan bebas hambatan ini juga dibatasi, minimum 60 kilometer per jam dan maksimum 80 kilometer per jam. Dengan kecepatan sebesar itu, tentu menjadikan embusan angin yang diakibatkan ketika kendaraan itu melaju besar. Sehingga, apa yang akan terjadi ketika pesepeda terkena hempasan angina tersebut,” papar dia saat dihubungi dari Jakarta, Senin (14/9/2020).

Karena tingkat risiko itulah, maka jangankan sepeda, sepeda motor pun dilarang untuk melintas di jalan tol. Meski di daerah tertentu sepeda motor boleh melints di jalan tol, namun hal itu dibuatkan lajur khusus.

“Alasannya, ya tentu saja demi keamanan baik pengendara sendiri maupun orang lain pengguna jalan tol,” ucap Djoko.

Ilustrasi, jalan tol hingga saat ini hanya diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih – dok.Motoris

Menurut dia, acuan hukum penggunaan jalan tol saat ini masih belum diubah. Dimana, kata dia, aturan menyatakan bahwa jalan tol hanya diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih.

“Oleh karena itu, bagi pesepeda yang melintasi jalan tol, tentu melanggar aturan yang ada. Karena Undang-undang jalan told an aturan lain seperti PP Nomor 88 Tahun 2009 yang merupakan perubahan atas PP Nomor 15 Tahun 2005 masih berlaku dan tidak ada revisi yang mengakomodir pesepeda,” tandas dia. (Fat/Bgk/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This