Produksi Lokal Menciut, Permintaan Bus Eropa Masih Ngebut

Ilustrasi, bus ber-chassis Scania – dok.Motoris


Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) menyebut dalam dua tahun terakhir produksi bus di Tanah Air terus menyusut. Dampak wabah virus corona (Covid-19) terhadap berbagai sektor dan aspek di global maupun nasional, juga ikut berpengaruh terhadap permintaan bus maupun produksi lokal.

“Potensi pasar angkutan bus di Indonesia sangat besar. Dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa lebih dan dengan 34 provinsi, banyak dibutuhkan sarana mobilitas termasuk bus. Meski pun dari produksi bus di kita (lokal) tahun 2020 lalu mengalami penurunan,” papar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Dia menyebut di tahun 2020 industri bus memproduksi 2.075 unit bus. Jumlah ini menciut dibanding jumlah produksi selama tahun 2019 yang masih sebanyak 3.275 unit, meski jumlah produksi pada tahun 2019 itu juga sudah mengkerut dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 3.460 unit.

Ilustrasi, bus ber-chassis Hino yang dipamerkan di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan yang dihubungi Motoris, Rabu (3/2/2021) mengakui permintaan bus sepanjang tahun 2020 memang melorot. Maklum, di tengah kondisi ekonomi yang diterpa dampak pandemi Cocid-19 banyak lembaga keuangan – baik bank maupun non bank – banyak yang tak bersedia memberikan pembiayaan (leasing) untuk pembelian unit baru yang diajukan oleh Perusahaan Otobus (PO).

“Karena lembaga keuangan juga enggak mau ambil risiko. Terlebih, dariseluruh kontrak pembiayaan yang masih berjalan atau yang sudah ada sebelumnya, 95% lebih minta direstrukrurisasi. Cilakanya, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tidak bisa mengakomodir harapan dari PO untuk restrukrisasi kredit yang terengah-engah karena PO kesulitan cash flow. Sehingga, lembaga pembiayaan membuat kebijakan sendiri-sendiri,” papar Lesani.

Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan – dok.Istimewa

Pria yang juga menjabat Ketua Bidang Angkutan Penumpang Organisasi Angkutan Darat (Organda) itu menyebut di tahun 2020, hingga saat ini lebih dari 15 perusahaan angkutan bus yang “sekarat” dan bahkan gulung tikar. Meski juga masih ada permintaan bus, terutama bus-bus asal Eropa.

“Karena mau operasi juga masih kesulitan cash flow. Kalau pun dipaksakan bisa nombok, karena antara ongkos operasional dan pemasukan tidak seimbang, apalagi ada pembatasan kegiatan masyarakat dalam rangka penanggulangan Covid-19, orang masih banyak yang enggan bepergian,” ucap dia.

Ilustrasi, chassis bus Mercedes-Benz dengan bodi karoseri Tentrem – dok.Motoris

Permintaan bus Eropa
Namun, lanjut Lesani, di tengah lesunya permintaan bus itu – khususnya pada tahun 2019 – permintaan bus-bus buatan pabrikan Eropa justeru menanjak. Alasannya, karena PO menyadari perlunya bus dengan spek yang sesuai dengan kondisi jalan yang sudah tersambung melalui jalan tol.

“Karena perjalanan bisa dilakukan secara terus menerus, jarak jauh dan terus menerus dibutuhkan bus dengan engine (semuran tenaga dan torsi) besar dan daya tahan lebih. Nah, karakter ini dimiliki bus keluaran Eropa. Kalau bus dengan engine kecil dipaksakan seperti itu bisa jebol,” terang Direktur Utama PO Siliwangi Antar Nusa tersebut.

Selain itu, pemilihan bus bermesin besar – yang nota bene banyak didominasi oleh bus pabrikan Eropa – didasari pertimbangan efisiensi dan produktifitas operasi. Selain itu, dengan perjalanan yang terus menerus – atau sedikit beristirahat, dengan melintasi jalur tol – kepuasan konsumen juga akan terjaga, karena perjalanan menjadi relatif lebih cepat.

Ilustrasi, Bus Sleeper Suite Class dengan basis chassis Scania – dok.Motoris

Lesani menyebut, hingga akhir semester pertama tahun 2021 ini, kondisi pasar bus di Tanah Air masih berada dalam tekanan. Pasalnya, PO masih berada dalam upaya normalisasi kondisi keuangan mereka.

“Mungkin permintaan bus-bus baru baru akan marak di semester dua, atau dimulai pada kuartal ketiga,” imbuh dia. (Ril/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This