Revolusi 4.0 Berangus Industri Komponen Mobil

Revolusi 4.0 Berangus Industri Komponen Mobil
Presiden Jokowi di pembukaan IIMS 2018 (IST)

Jakarta, Motoris – Industri 4.0 bakal menjadi cikal bakal hadirnya mobil listrik di Tanah Air. Hal ini akan merombak struktur industri otomotif nasional, mulai dari pabrik perakitan, pemasok komponen, hingga ke hilir meliputi perdagangan dan layanan purnajual mobil.

Meski begitu, jumlah tenaga kerja di sektor otomotif diprediksi tidak berkurang. Sebaliknya, ada potensi tenaga kerja bertambah. Sebab, akan terjadi pergeseran tenaga kerja dari sektor komponen ke bidang usaha lain yang terkait otomotif. Contohnya, perawatan mobil. Industri 4.0 juga akan memacu produksi mobil domestik. Alasannya, masa pakai kendaraan akan menyusut, lantaran waktu pemakaian bertambah banyak. Ini akibat adanya tren sharing economy yang ditawarkan perusahaan jasa layanan transportasi daring, seperti Grab dan Go-Jek.

Presiden Joko Widodo menyatakan, revolusi industri 4.0 akan mentransformasi industri otomotif, termasuk dimulainya era mobil listrik. Ini akan menimbulkan sejumlah dampak terhadap industri otomotif. Pertama, jumlah komponen otomotif dalam sebuah mobil listrik hanya 10%, dibandingkan mobil pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Itu artinya, jika seluruh mobil yang dijual di dalam negeri sudah mobil listrik, industri komponen otomotif akan meciut 90%.

Kedua, karena mobil listrik sebuah mesin yang jauh lebih sederhana dari mobil biasa, mobil listrik bakal lebih jarang mogok, sehingga jarang diperbaiki atau dirawat. Itu sebabnya, pekerjaan bengkel akan jauh berkurang. Ketiga, industri juga terdampak oleh sharing economy di sektor angkutan mobil melalui Go-Car dan Grab Car. Dengan layanan itu, pelanggan bisa mengakses angkutan mobil kapan saja dan di mana saja, dengan menggunakan aplikasi.

“Saya juga mendapatkan informasi, perusahaan mobil BMW sedang menjalankan experiment abodemen mobil BMW. Jadi, tak perlu beli mobil, tapi bayar biaya abodemen bulanan dan aplikasi mobile bisa mengakses berbagai model mobil BMW di mana saja dan kapan saja,” ujar Presiden di pembukaan pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/4).

Imbasnya, Presiden melanjutkan, sejumlah kalangan banyak menyampaikan, untuk apa membeli mobil, jika kita bisa mengakses transportasi mobil kapan saja dan di mana saja dengan menggunakan aplikasi mobile. Jika orang tidak lagi beli mobil, hanya menyewa mobil dari waktu ke waktu, serta mobil sudah bertenaga listrik semua, jumlah komponen akan sedikit dan mobil jarang masuk bengkel. Akhirnya, industri otomotif akan menciut luar biasa

“Itu prediksi dan saya tidak percaya. Kalau yang pesimis-pesimis seperti itu, saya tidak percaya,” tegas dia.

Catatan Motoris, mobil listrik tak membutuhkan sistem penerus tenaga (powertrain) mesin, karena motor listrik langsung memutar roda. Artinya, tak ada lagi transmisi dan semua komponen yang melekat di mesin bensin atau diesel. Adapun di mobil ICE, mesin meneruskan tenaga ke roda melalui powertrain. Total jumlah komponen di mobil sekitar 30 ribuan. Dari jumlah itu, 30% dibuat prinsipal, sedangkan 70% dari pemasok lapis (tier) satu hingga tiga.

Di industri roda dua, motor listrik akan menghapus 50% komponen. Sama seperti mobil, sudah tak ada lagi transmisi dan ribuan komponen di mesin. Semua digantikan oleh motor listrik yang memutar roda.

Berdasarkan data Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor Indonesia (Giamm), terdapat 1.550 perusahaan komponen industri mobil. Sebanyak 550 perusahaan berada di lapis satu dan sisanya lapis dua dan tiga. Sementara itu, untuk roda dua, jumlahnya sekitar 795 perusahaan.

Total kapasitas produksi terpasang industri perakitan mobil mencapai 2,2 juta unit setahun, sedangkan motor 10,4 juta unit. Terdapat 12 perusahaan perakitan mobil, sedangkan motor lima perusahaan. Total tenaga kerja di industri otomotif, berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sekitar 3 juta orang,

Presiden percaya, dengan revolusi industri 4.0, sektor otomotif akan tumbuh pesat, bukan menciut. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan di seputar sektor otomotif dan sektor transportasi mobil akan bertambah, bukan berkurang. “Bahwa jenis pekerjaan akan berubah, iya. Bahwa pekerja harus bergeser, iya, ke jenis pekerjaan yang agak berbeda, iya. Tapi, jumlah pekerja di sektor otomotif dan transportasi mobil tidak akan berkurang,” ujar dia.

Pertama, dia menuturkan, kalau model bisnis beralih dari beli mobil jadi panggil mobil, berarti mobil yang sama akan dipakai oleh banyak orang secara terus-menerus. Dari situasi ini, pemilik mobil pribadi hanya akan memakai mobil 2-3 jam per hari, sedangkan sisanya diparkir di garasi alias mobil itu nganggur.

Mereka, demikian Presiden, akan beralih ke mobil publik. Berarti, setiap mobil bisa dipakai terus-terusan selama 18-20 jam, bahkan mungkin 24 jam, bukan hanya 2-3 jam perhari. Itu artinya, mobil itu perlu dirawat sesering mungkin, perlu dicuci dalam dan luarnya sesering mungkin.

“Bapak ibu bisa bayangkan bagaimana merawat taksi 18 jam dengan banyak orang keluar masuk. Artinya, mobil publik tadi harus dirawat dan dicuci secara intensif. Kalau kita lihat cuci mobil, terutama interiornya, adalah sebuah jasa yang padat karya, merawat mobil adalah jasa yang padat karya,” papar dia.

Selanjutnya, dia menerangkan, siklus pergantian mobil akan lebih cepat. Kalau dulu mobil pribadi jarang dipakai bisa tahan 10-12 tahun, mungkin nanti mobil publik sudah harus ganti 2-4 tahun. Artinya, produksi mobil harus lebih banyak.

Kemudian, demikian Presiden, definisi mobil akan berkembang, melebar, dan jauh lebih beragam. Contohnya adalah mobil swakemudi (autonomous vehicle) yang bisa mengendarai dirinya sendiri, tapi untuk mengantar barang, bukan penumpang. Mobilnya kecil dan efisien khusus untuk antar barang. Permintaan kendaraan seperti ini luar biasa ke depannya, kalau teknologi ini sudah matang.

Dia mengakui, akan ada gejolak teknologi di sektor otomotif. Selain itu, evolusi industri 4.0 akan menjungkirbalikan industri otomotif. Tapi, Presiden menilai, transisi ke generasi berikut dari teknologi otomotif akan membuka peluang yang luar biasa.

“Yang perlu kita lakukan adalah melek, mencerna, tahu dan benar mengikuti. Kita perlu benar-benar mencermati secara cepat, mendalami secara cepat, dan mempersiapkan secara cepat. Kita harus cekatan dan kita harus siap,” tegas dia.

Dia optimistis, dengan bakat yang ada, sektor otomotif Indonesia bisa menggarap peluang-peluang yang ada.

Peta jalan industri 4.0 atau Makin Indonesia 4.0 telah dirilis Kemenperin. Making Indonesia 4.0 memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan, termasuk fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan serta menjalankan 10 inisiatif nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.

Lima sektor itu adalah makanan dan minuman (mamin) olahan, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan industri elektonik. Adapun ke-10 inisiatif itu adalah perbaikan alur aliran barang dan material, membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan industri kecil dan menengah, serta membangun infrastruktur digital nasional. Kemudian, menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, serta harmonisasi aturan dan kebijakan

Terdapat lima teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0, yaitu internet of things, kecerdasan buatan (artificial intelligence), human–machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi percetakan tiga dimensi (3D ). Era industri 4.0 ditandai dengan konektivitas dan interaksi melalui teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan seluruh rantai nilai manufaktur guna mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk. (gbr)

CATEGORIES
TAGS
Share This