Rupiah Terkapar, Industri Motor Makin Tak Leluasa Patok Harga

Rupiah Terkapar, Industri Motor Makin Tak Leluasa Patok Harga

Jakarta, Motoris – Sampai saat ini kalangan industri sepeda motor di Indonesia masih belum leluasa menentukan harga jual produknya, meski tingkat kandungan dalam negeri sudah 90% lebih. Mereka harus mempertimbangkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar karena ada sejumlah bahan baku penunjang yang masih harus diimpor.

“Bahan baku ini bisa dibilang sebagai mikro material ya, karena memang untuk bagian-bagian kecil. Tetapi keberadaannya cukup penting karena dibutuhkan di produk motor yang dibuat oleh pabrikan, sehingga kalau dibilang enggak, kok faktanya banyak dibutuhkan,” papar Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala, saat dihubungi, Jumat (4/5/2018).

Menurut Sigit dari total mikro material yang ada di motor, 60% berbahan baku baja keras (hard steel). Sementara 11% berbahan baku resin, dan sekitar 20% berbahan karet sintetis.

“Padahal, 59% dari total kebutuhan baja keras itu masih harus diimpor. Padahal, kita tahu impor ini tentu berkaitan dengan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar. Sehingga, wajar pada saat akan menentukan harga produk baru, produsen (di Indonesia) nilai tukar menjadi persoalan yang pelik bagi mereka.

Sementara itu, pada perdagangan hari Kamis (3/5/2018) kemarin, rupiah terus tertekan sepanjang perdagangan, sehingga begerak pada di kisaran Rp13.939 – Rp13.977 per dolar. Sejumlah kalangan bahkan memperkirakan volatilitas rupiah masih akan terus terjadi hingga Juni atau bahkan Desember.

Ilustrasi, proses produksi Honda BeAT – dok.Istimewa

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, usai peluncuran buku Laporan Perekonomian Indonesia 2017 di Bank Indonesia, Rabu (28/3/2018) menyebut volatilitas rupiah itu dipicu beberapa faktor. Salah satunya, penyesuaian tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, atau Fed Fund Rate.

“Penyesuaian Fed Rate Fund itu kan sampai tiga kali, di bulan Maret, Juni, dan Desember. Nanti mungkin di bulan Mei, mendekati bulan Juni, kalau The Fed benar akan menaikkan di bulan Juni, mungkin di Mei akan terjadi lagi volatilitas,” ujarnya.

Dampak dari volatilitas rupiah yang meningkat ini, kata Vice President Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, tentu memengaruhi dunia usaha. Apalagi, bagi industri yang mengandalkan bahan baku  – baik seluruhnya atau sebagian – dari impor.

“Jadi kalau tren pelemahan rupiah ini terus berlanjut, kegiatan produksi industri juga berpotensi terganggu akibat bahan baku yang berasal dari impor. Kalau industri mengalihkan beban kenaikan biaya impor bahan baku itu ke konsumen akan mendorong inflasi domestik,” tuturnya saat dihubungi, Kamis (3/5/2018).

Dia menyarankan agar perusahaan melakukan transaksi lindung nilai atau hedging sebagai langkah mitigasi risiko nilai tukar. Alhasil, dampak negatif bisa diredam sepanjang tren pelemahan rupiah terjadi. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This